Pengembangan AI Berbasis Ekosistem Tekno-Sosio: Pastikan Teknologi Tetap Berpihak pada Manusia

Kemajuan perkembangan artificial intelligence. (Ilustrasi diolah menggunakan SORA)

MAKLUMAT — Guru Besar Bidang Ilmu Kecerdasan Buatan Terapan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof Ir Slamet Riyadi ST MSc PhD, menegaskan pentingnya membangun kerangka pengembangan AI yang terintegrasi dengan kehidupan sosial.

Sebagaimana diketahui, artificial intelligence (AI) dewasa ini tidak hanya menjadi isu teknologi, tetapi juga persoalan sosial yang berdampak luas terhadap kehidupan manusia. Di tengah laju inovasi yang semakin pesat, pengembangan AI dinilai perlu mengedepankan pendekatan yang tidak semata berorientasi pada efisiensi dan kecanggihan sistem, tetapi juga memperhatikan nilai, etika, serta dampak sosial yang ditimbulkan.

Prof Ir Slamet Riyadi ST MSc PhD. (Foto: UMY)
Prof Ir Slamet Riyadi ST MSc PhD. (Foto: UMY)

Menurut Slamet, kecerdasan buatan tidak dapat diposisikan sebagai teknologi yang berdiri sendiri, melainkan harus dipahami sebagai bagian dari sistem sosial yang saling terhubung. Sebab itu, ia mengedepankan pendekatan ekosistem tekno-sosio dalam pengembangan AI.

“Ekosistem tekno-sosio memandang kecerdasan buatan sebagai teknologi yang selalu berinteraksi dengan manusia, nilai, dan struktur sosial. Oleh karena itu, pengembangannya tidak boleh dilepaskan dari tanggung jawab sosial dan etika,” ujarnya dikutip dari laman resmi UMY, Ahad (25/1/2026).

Konsep ekosistem tekno-sosio, kata Slamet, menuntut keterlibatan berbagai elemen dalam proses pengembangan dan penerapan AI. Menurutnya, teknologi tidak hanya dibentuk oleh kemampuan teknis, tetapi juga oleh keputusan manusia serta peran institusi yang terlibat di dalamnya.

Baca Juga  Komdigi Sebut Digitalisasi dan AI Pilar Utama Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

“Pengembangan kecerdasan buatan tidak bisa diserahkan hanya kepada satu pihak. Akademisi, industri, pembuat kebijakan, dan masyarakat perlu terlibat secara aktif agar AI tidak berkembang secara eksklusif dan elitis,” terang dosen Prodi Teknologi Informasi Fakultas Teknik (FT) UMY itu.

Ia menilai, kolaborasi lintas sektor tersebut menjadi kunci untuk memastikan kecerdasan buatan benar-benar hadir sebagai teknologi yang melayani kepentingan bersama.

Tak cuma itu, Slamen menyebut pendekatan ekosistem tekno-sosio juga berfungsi menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan peran manusia. Dalam kerangka tersebut, ia menjelaskan bahwa AI diposisikan sebagai sarana pendukung kehidupan sosial, bukan sebagai kekuatan yang mendominasi atau menggantikan peran manusia.

“Ketika kecerdasan buatan dikembangkan tanpa kesadaran sosial, risiko ketimpangan dan dehumanisasi akan semakin besar. Ekosistem tekno-sosio hadir untuk memastikan teknologi tetap berpihak pada manusia,” tandasnya.

Melalui konsep tersebut, Slamet berharap pengembangan AI dapat diarahkan pada tujuan kemaslahatan bersama. Menurutnya, keberhasilan kecerdasan buatan tidak cukup diukur dari kecanggihan algoritma atau kecepatan sistem, tetapi dari sejauh mana teknologi tersebut mampu memberikan manfaat sosial, memperkuat nilai kemanusiaan, serta mendukung kehidupan masyarakat yang adil dan berkelanjutan.

Baca Juga  FH UMY Buka Program Doktor Hukum, Fokus pada Isu Teknologi dan Keamanan Siber