MAKLUMAT — Majelis Pakar Iran menetapkan Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi (Rahbar) alias pemimpin ketiga pasca-Revolusi Islam. Pengumuman tersebut disampaikan pada Ahad (8/3/2026) malam, saat umat Islam di berbagai masjid tengah menjalankan salat tarawih. Keputusan diambil setelah proses pembahasan dan musyawarah yang berlangsung lebih dari sepekan.
Dalam pernyataan resmi, Majelis Pakar menyebut pemilihan dilakukan dengan dukungan suara mayoritas anggota. “Dengan suara yang menentukan, Majelis Pakar memilih Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei sebagai Pemimpin ketiga sistem suci Republik Islam Iran,” demikian bunyi pernyataan tersebut.
Penunjukan itu menyusul wafatnya Pemimpin Revolusi Islam sebelumnya, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, akibat serangan militer gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada 28 Februari 2026 lalu.
Latar Belakang
Ayatollah Mojtaba Khamenei lahir pada 1969 di kota suci Mashhad, Iran. Melansir Press TV, Mojtaba merupakan putra kedua dari Ayatollah Ali Khamenei yang telah memimpin Iran selama 37 tahun setelah wafatnya pendiri Revolusi Islam, Imam Ruhollah Khomeini pada 1989 silam.
Masa kecil Mojtaba Khamenei dijalani di Teheran. Ia menempuh pendidikan menengah di Sekolah Alavi, lembaga pendidikan yang dikenal melahirkan sejumlah tokoh intelektual dan politik Iran.
Ketika Perang Iran–Irak berlangsung pada dekade 1980-an, Mojtaba Khamenei yang masih berusia 17 tahun menjadi sukarelawan di garis depan. Ia tercatat sebagai anggota Batalyon Habib ibn Mazaher dari Divisi Mohammad Rasulollah ke-27 yang berbasis di Teheran.
Pengalaman di medan perang tersebut disebut membentuk pandangan politik dan memperkuat komitmennya terhadap cita-cita Revolusi Islam.
Pada 1989, ia melanjutkan studi keagamaan di kota suci Qom, pusat pendidikan ulama Syiah di Iran. Ia menempuh pendidikan seminari tingkat lanjut di kota itu sebelum sempat kembali ke Teheran pada awal 1990-an untuk melanjutkan studi agama selama beberapa tahun.
Karier Keagamaan
Setelah menikah dengan Zahra Haddad Adel pada 1997, Mojtaba Khamenei kembali ke Qom untuk menyelesaikan pendidikan seminari tingkat tinggi.
Di sana ia mempelajari ilmu fikih dan ushul fikih di bawah bimbingan sejumlah ulama terkemuka. Ia juga mengikuti kelas-kelas tingkat lanjut yang memperdalam metode penalaran hukum Islam. Sejumlah tokoh agama di Qom menilai Mojtaba Khamenei dikenal memiliki ketelitian intelektual dan pendekatan metodologis dalam kajian keagamaan.
Kuliah-kuliahnya di seminari Qom disebut menarik ribuan mahasiswa dan menjadi salah satu kelas yang paling banyak dihadiri di pusat pendidikan agama tersebut. Dalam berbagai kajian akademik, ia juga terlibat dalam diskusi mengenai isu sosial dan keagamaan, termasuk pengembangan ilmu fikih dan kajian hadis.
Selain itu, Mojtaba Khamenei diketahui mendukung berdirinya sejumlah lembaga pendidikan dan pusat riset yang bertujuan mencetak generasi ulama dan cendekiawan baru. Di lingkungan seminari Iran, ia juga dikenal memiliki hubungan dekat dengan berbagai ulama senior di Qom dan Mashhad.
Peran Politik dan Hubungan Strategis
Di luar kegiatan akademik dan keagamaan, Mojtaba Khamenei disebut-sebut ikut terlibat dalam berbagai diskusi strategis mengenai kebijakan nasional. Isu yang menjadi perhatiannya antara lain stabilitas ekonomi, pembangunan perumahan, modernisasi pertanian, serta pengembangan teknologi dan industri berbasis pengetahuan, termasuk kecerdasan buatan.
Selama kepemimpinan ayahnya, ia juga disebut berperan sebagai salah satu penasihat yang terlibat dalam sejumlah konsultasi dengan pejabat senior Republik Islam Iran. Mojtaba Khamenei diketahui memiliki hubungan dekat dengan sejumlah tokoh yang tergabung dalam apa yang disebut Poros Perlawanan.
Ia pernah menjalin kedekatan dengan pemimpin Hizbullah Lebanon, Sayyed Hassan Nasrallah, serta komandan militer Iran Jenderal Qasem Soleimani yang tewas pada 2020.
Meski demikian, Mojtaba Khamenei selama ini dikenal menjaga profil publik yang relatif rendah dan jarang tampil di ruang publik.
Pendekatan tersebut, menurut sejumlah pengamat di Iran, membuatnya tetap diterima oleh berbagai kelompok di dalam masyarakat, baik kalangan ulama, politikus, maupun akademisi.
Dengan latar belakang akademik yang panjang, pengalaman di lingkungan lembaga negara, serta jaringan luas di kalangan ulama, Mojtaba Khamenei kini memimpin Republik Islam Iran di tengah situasi geopolitik yang dinamis.
Sejumlah pejabat tinggi negara dan unsur angkatan bersenjata Iran telah menyatakan kesetiaan kepada pemimpin baru tersebut. Ia disebut akan melanjutkan arah kebijakan dan warisan kepemimpinan yang dibangun oleh para pendahulunya dalam Revolusi Islam Iran.***












