Puasa Sya’ban Dianjurkan, Muhammadiyah Ingatkan Sesuai Kemampuan

MAKLUMAT — Umat Islam telah memasuki bulan Sya’ban, bulan yang menjadi penanda semakin dekatnya Ramadan. Dalam hitungan waktu, bulan puasa diperkirakan tiba kurang dari empat pekan lagi.

Sya’ban dikenal memiliki keutamaan tersendiri. Rasulullah SAW menganjurkan umat Islam memperbanyak puasa sunnah di bulan ini. Anjuran tersebut diriwayatkan dari ‘Aisyah RA, yang menyebut Nabi Muhammad SAW lebih banyak berpuasa di bulan Sya’ban dibandingkan bulan lainnya.

Bahkan, dalam sejumlah riwayat melalui Abu Salamah dan Abdullah bin Abi Qays, ‘Aisyah menyebut Rasulullah SAW berpuasa hampir sebulan penuh di bulan Sya’ban, lalu menyambungnya dengan puasa Ramadan.

“Rasulullah memperbanyak puasa sunnah. Kita bisa melakukan puasa Daud atau puasa Senin-Kamis. Memperbanyak puasa di bulan ini sangat efektif untuk mempersiapkan Ramadan,” kata Wakil Ketua Lembaga Dakwah Khusus (LDK) PP Muhammadiyah, Agus Tri Sundani seperti dilansir laman Muhammadiyah dikutip Selasa  (2/2/2026).

Anjuran tersebut juga berkaitan dengan kemuliaan bulan Sya’ban sebagai waktu diangkatnya amal-amal manusia. Dalam hadis riwayat Usamah bin Zaid RA, Rasulullah SAW menyebut Sya’ban sebagai bulan yang sering dilalaikan manusia karena berada di antara Rajab dan Ramadan.

“Bulan itu adalah bulan diangkatnya amal-amal kepada Rabb semesta alam, dan aku ingin amalku diangkat dalam keadaan aku sedang berpuasa,” sabda Rasulullah SAW.

Baca Juga  Muslim di Hongaria: Jalani Puasa 16 Jam dan Rayakan Idulfitri dengan Suka Cita

Puasa Dianjurkan, Tidak Memaksakan Diri

Meski menganjurkan puasa sunnah, Agus Tri Sundani mengingatkan agar umat Islam tetap memperhatikan kemampuan diri. Ia menegaskan bahwa Rasulullah SAW melarang sikap berlebihan atau memaksakan diri dalam ibadah sunnah.

Menurutnya, kehati-hatian ini penting karena pada bulan Ramadan seorang muslim diwajibkan berpuasa penuh selama 30 hari. Jika seseorang berpuasa penuh di bulan Sya’ban tanpa mempertimbangkan kondisi fisik dan mental, dikhawatirkan justru menurunkan kualitas ibadah di bulan Ramadan.

Larangan mendahului puasa Ramadan ditegaskan Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Abu Hurairah RA.

“Jangan sekali-kali salah seorang di antara kalian mendahului puasa Ramadhan dengan melakukan puasa sehari atau dua hari, kecuali bagi orang yang memang memiliki kebiasaan puasa,” demikian sabda Nabi.

Tidak Ada Ibadah Khusus Nisfu Sya’ban

Terkait malam Nisfu Sya’ban, Agus Tri Sundani menegaskan bahwa Muhammadiyah tidak mengenal adanya ibadah khusus yang ditetapkan secara spesifik pada malam tersebut.

Ia menjelaskan, meski terdapat hadis yang menyebut keutamaan malam Nisfu Sya’ban, tidak ada tuntunan ibadah tertentu yang harus dilakukan secara khusus atau berjamaah.

“Banyak tradisi di masyarakat, seperti berkumpul di masjid dan membaca Yasin dengan hitungan tertentu. Itu tidak pernah disyariatkan secara khusus,” ujarnya.

Baca Juga  Draft SE untuk Pembelajaran Ramadan Sudah Rampung, Mendikdasmen Bakal Umumkan Pekan Depan

Meski demikian, umat Islam dipersilakan memperbanyak amal saleh tanpa mengkhususkan bentuk ibadah tertentu. Dalam hadis riwayat Abu Tsa’labah dan Abu Musa, Rasulullah SAW menyebut Allah memberikan ampunan pada malam Nisfu Sya’ban, kecuali bagi orang musyrik dan pendengki.

“Dalam Muhammadiyah tidak ada acara khusus Nisfu Sya’ban. Yang jelas, amalan yang sesuai tuntunan Rasulullah adalah memperbanyak puasa sebagai persiapan menyambut Ramadan,” kata Agus.***