Dari Akar Rumput ke Senayan: Rekam Jejak Novita Hardini Perjuangkan UMKM Perempuan

Novita Hardini

MAKLUMAT — Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) periode 2024–2029, Novita Hardini, sukses mencuri perhatian publik nasional setelah menapakkan kakinya di Senayan.

Kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) ini membuktikan kapasitasnya melalui rekam jejak panjang di bidang pemberdayaan perempuan dan ekonomi kerakyatan sebelum akhirnya terjun ke panggung politik nasional.

Perempuan kelahiran Surabaya, 22 November 1990, ini memulai langkah pengabdiannya sebagai Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Trenggalek mendampingi suaminya, Bupati Mochamad Nur Arifin.

Selama mengemban amanah tersebut, ia secara konsisten menggagas berbagai inovasi sosial, salah satunya program SEPEDA KEREN serta mendirikan UMKM Perempuan Perintis (UPRINTIS).

Di bawah kepemimpinannya, UPRINTIS bahkan berhasil menembus kancah internasional dengan mewakili Indonesia pada ajang Asia Pacific Cooperative Youth Summit (APCYS) 4.0 di Sabah, Malaysia, pada Juli 2023 lalu.

Tak hanya itu, Novita juga aktif memperkuat kerja sama ekonomi bilateral antara Indonesia dan Tiongkok melalui sektor pengembangan UMKM.

Berkat dedikasi dan konsistensinya dalam menggerakkan ekonomi akar rumput, ia memutuskan maju sebagai calon legislatif pada Pemilu 2024 dari Daerah Pemilihan Jawa Timur VII. Hasilnya, ia meraih kepercayaan masyarakat dan resmi dilantik sebagai wakil rakyat di parlemen pusat.

Baca Juga  Komisi VII DPR RI Soal Tarif Resiprokal AS: Harus Waspada, Tapi Juga Peluang Besar

“Pemberdayaan perempuan dan penguatan UMKM bukan sekadar program seremonial, melainkan fondasi utama kemandirian ekonomi bangsa yang harus terus dikawal hingga tingkat kebijakan nasional,” ujar Novita Hardini saat merintis berbagai program kerakyatan di daerah pemilihannya.

Strategi Politik Berbasis Kerja Nyata di Akar Rumput

Masuknya Novita Hardini ke Senayan memberikan warna tersendiri dalam peta perpolitikan nasional, khususnya bagi representasi perempuan dan politisi muda. Keberhasilannya tidak diraih secara instan, melainkan buah dari konsistensi kerja-kerja sosial di tingkat lokal yang kemudian ditransformasikan menjadi legitimasi politik yang kuat.

Langkah ini menunjukkan pergeseran tren politik elektoral di Indonesia, di mana figur publik yang memiliki portofolio kerja nyata (track record) di bidang pemberdayaan masyarakat—seperti halnya pembinaan UMKM dan advokasi perempuan—cenderung lebih mudah memenangkan simpati pemilih.

Tantangan terbesar Novita ke depan di DPR RI adalah bagaimana memperjuangkan skala nasional atas program-program kerakyatan yang sebelumnya diinisiasi di tingkat lokal agar berdampak lebih luas.