SRMP dan Mimpi Anak-anak dari Keluarga Miskin: Antara Pendidikan, Harapan, dan Upaya Memutus Kemiskinan

MAKLUMAT — Ketika Presiden Prabowo Subianto datang ke Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 17 Tabanan, Bali, Ahad (7/6/2026), yang terlihat bukan sekadar agenda kenegaraan. Di balik tarian kecak, yel-yel siswa, dan pidato resmi, tersimpan cerita tentang keluarga-keluarga yang selama ini hidup di batas keterbatasan ekonomi—dan kini mulai menemukan harapan baru lewat pendidikan.

Program SRMP yang diinisiasi pemerintah hadir dengan satu gagasan besar: negara tidak boleh membiarkan anak-anak dari keluarga miskin kehilangan akses pendidikan hanya karena kondisi ekonomi.

Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menegaskan bahwa pendidikan menjadi salah satu instrumen utama untuk menciptakan kehidupan yang lebih layak bagi seluruh rakyat Indonesia.

“Pembangunan kita sebagai bangsa tujuannya adalah untuk membuat seluruh rakyat Indonesia hidupnya layak, hidupnya baik,” ujar Prabowo.

Pernyataan itu menjadi penting karena persoalan pendidikan di keluarga miskin bukan hanya soal sekolah, melainkan soal keberlanjutan hidup antargenerasi. Banyak anak berhenti sekolah bukan karena tidak mampu belajar, melainkan karena keluarga tidak memiliki sumber daya untuk mempertahankan pendidikan mereka.

SRMP dan Upaya Memutus Rantai Kemiskinan

Cerita I Nyoman Sukonado memperlihatkan realitas tersebut. Buruh tani asal Bali itu mengaku lima dari enam anaknya sebelumnya terpaksa berhenti sekolah karena keterbatasan biaya dan kondisi ekonomi keluarga yang tidak menentu.

Bagi Sukonado, kehadiran SRMP menjadi peluang yang sebelumnya terasa mustahil.

“Saya berterima kasih kepada Bapak Prabowo yang punya program sebesar ini, membiayai masyarakat miskin seperti saya, biar bisa anaknya menimba ilmu,” ujarnya.

Kisah seperti Sukonado menunjukkan bahwa pendidikan masih menjadi kemewahan bagi sebagian keluarga miskin di Indonesia. Dalam banyak kasus, anak-anak dari keluarga rentan ekonomi harus berhadapan dengan pilihan sulit antara sekolah atau membantu orang tua bekerja.

Karena itu, model pendidikan berbasis afirmasi seperti SRMP dipandang sebagai intervensi negara untuk memutus rantai kemiskinan struktural.

Pendidikan Tidak Lagi Sekadar Masuk Kelas

Di SRMP 17 Tabanan, pendekatan pendidikan tidak hanya berfokus pada akademik, tetapi juga pembentukan karakter, kemandirian, hingga pengembangan bakat siswa.

Hal itu terlihat dari kisah Ni Made Ayu Arini, siswa yang mulai menunjukkan prestasi di bidang olahraga setelah bergabung di Sekolah Rakyat.

Sebelum masuk sekolah tersebut, Arini telah berprestasi di cabang lompat jauh tingkat provinsi. Kini, bakatnya berkembang hingga meraih prestasi di bulu tangkis.

Ibunya, Ni Putu Megayani, mengaku melihat perubahan besar pada diri anaknya.

“Saya sangat bangga karena anak saya bisa mandiri dan berprestasi di sekolah rakyat ini,” katanya.

Bagi keluarga miskin, keberhasilan anak bukan sekadar nilai akademik, tetapi juga simbol perubahan sosial. Pendidikan memberi peluang agar anak-anak memiliki masa depan berbeda dari orang tuanya.

Megayani bahkan mengaku tidak ingin anaknya mengalami keterbatasan seperti dirinya yang tidak bisa membaca dan menulis.

“Saya ingin anak saya sukses nantinya dan melebihi diri saya sendiri,” tuturnya.

Negara Hadir untuk Kelompok Paling Rentan

Dalam kunjungannya, Presiden Prabowo juga menyaksikan langsung penampilan siswa, mendengar testimoni orang tua, hingga makan siang bersama para siswa dan keluarga mereka.

Simbol-simbol seperti ini penting secara sosial dan politik karena memperlihatkan upaya negara membangun kedekatan dengan kelompok masyarakat yang selama ini berada di lapisan paling rentan.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf menjelaskan bahwa pemerintah tengah menyiapkan pembangunan gedung permanen Sekolah Rakyat di Kabupaten Karangasem, Bali.

Untuk tahun ajaran 2026/2027, pemerintah menargetkan kapasitas 270 siswa dengan jumlah calon peserta didik yang sudah terdata mencapai lebih dari 400 anak di seluruh Bali.

Data tersebut memperlihatkan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap akses pendidikan alternatif yang terjangkau dan inklusif.

Pendidikan sebagai Jalan Mobilitas Sosial

Dalam konteks lebih luas, SRMP memperlihatkan bagaimana pendidikan masih menjadi instrumen paling penting dalam mobilitas sosial di Indonesia.

Bagi keluarga seperti Yuniawati, Sukonado, dan Megayani, sekolah bukan hanya ruang belajar, tetapi jalan keluar dari lingkaran kemiskinan.

Yuniawati bahkan mulai berani memimpikan masa depan berbeda untuk anaknya, Rizky, yang kini bercita-cita menjadi insinyur pertanian.

“Sekarang saya harap anak-anak saya bisa mencapai tujuan mereka sekolah karena kami orang tak punya,” ujarnya penuh haru.

Di tengah berbagai tantangan pendidikan nasional, kisah-kisah di SRMP Tabanan menunjukkan satu hal: ketika akses pendidikan dibuka lebih luas, harapan keluarga miskin ikut tumbuh.

Dan bagi banyak orang tua di sana, harapan itu mungkin menjadi hal paling berharga yang selama ini sulit mereka miliki.***