MAKLUMAT — Para pelajar Muhammadiyah Jawa Timur membacakan dan menyerahkan dokumen bertajuk “Suara Pelajar Muhammadiyah Jawa Timur” yang berisikan 10 butir poin aspirasi, kepada Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti dan Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak.
Dokumen komitmen dan suara pelajar Muhammadiyah tersebut dibacakan dan disampaikan oleh perwakilan 10 pelajar Muhammadiyah, dalam kegiatan Puncak Peringatan Hari Anak Nasional yang diselenggarakan Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PWA) Jawa Timur di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Sabtu (25/7/2026).
Sekretaris PWA Jawa Timur, Nur Mukaromah, menjelaskan bahwa dokumen Suara Pelajar Muhammadiyah Jawa Timur tersebut merupakan aspirasi dan harapan-harapan para pelajar, yang disusun berdasarkan hasil Focus Group Discussion (FGD) dalam rangkaian peringatan Hari Anak Nasional di Kantor PWM Jawa Timur pada 14 Juli 2026 lalu.
“Rangkaian kegiatan peringatan Hari Anak Nasional ini diawali pada tanggal 14 Juli 2026 di Kantor PWM Jatim, kami melaksanakan FGD Suara Anak Remaja Persyarikatan Muhammadiyah-Aisyiyah Jawa Timur dengan tema “Stop Kekerasan terhadap Anak, Dengarkan Suara Anak, Wujudkan Generasi Berkemajuan”,” terangnya.
Selanjutnya, pada 23 Juli 2026, hasil FGD berisikan 10 butir poin tersebut kemudian difininalisasi untuk kemudian dibacakan dan diserahkan kepada pemerintah dalam momentum Puncak Peringatan Hari Anak Nasional yang digelar PWA Jawa Timur.
“Tanggal 23 Juli kemarin, dilakukan audiensi hasil dari FGD tersebut untuk kemudian disampaikan kepada pemerintah, yang tadi dibacakan oleh perwakilan 10 anak pelajar Muhammadiyah Jawa Timur tadi,” tandas Nur Mukaromah.
Suara Pelajar Muhammadiyah Jawa Timur
Berikut 10 butir poin Suara Pelajar Muhammadiyah Jawa Timur yang disampaikan kepada Mendikdasmen dan Wakil Gubernur Jawa Timur.
Pertama, lindungi kami dari eksploitasi dengan menjamin hak atas identitas hukum agar setiap anak memperoleh akses setara terhadap pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial.
Kedua, kami ingin dilindungi dengan meningkatkan pencegahan perundungan, perlindungan anak penyandang disabilitas untuk memperoleh rasa aman dan inklusivitas.
Ketiga, kami ingin dijamin pelayanan dan informasi kesehatan yang inklusif, ramah anak, mudah diakses pada daerah terpencil, dan kelompok rentan.
Keempat, orang tua perlu meningkatkan kualitas edukasi pendidikan seksual sejak dini untuk memperkuat kesehatan reproduksi anak.
Kelima, kami ingin peningkagan kesejahteraan guru perlu dioptimalkan guna mewujudkan pendidikan anak yang berkualitas.
Keenam, kami memohon pimpinan Muhammadiyah dan Aisyiyah meningkatkan program orang tua hebat dan layanan konseling keluarga guna mendukung kesehatan mental anak.
Ketujuh, Pemerintah, Pimpinan Muhammadiyah, dan Aisyiyah perlu mengoptimalkan edukasi gizi bagi ibu hamil, melahirkan, dan menyusui untuk tumbuh kembang anak yang optimal.
Kedelapan, kami meminta pemerintah untuk memperketat regulasi, pengawasan, dan pemberian sanksi terhadap peredaran zat adiktif serta akses anak ke tempat hiburan malam.
Kesembilan, kami memohon pemerintah dan orang tua menghentikan praktik perkawinan anak dan sunat perempuan melalui penegakan kebijakan, edukasi, dan perlindungan anak.
Kesepuluh, Pemerintah perlu mengoptimalisasikan kebijakan keamanan digital, pembatasan penggunaan platform pada anak, dan parenting control guna melindungi anak dari konten yang beretika.












