Sukuk atau Obligasi, Mana yang Lebih Cuan untuk Investasi?

MAKLUMAT– Sukuk dan obligasi sama-sama menjadi instrumen investasi yang dapat memberikan imbal hasil relatif stabil, tetapi keduanya memiliki prinsip, mekanisme, risiko, dan dasar hukum yang berbeda. Perbedaan tersebut penting dipahami investor sebelum menentukan pilihan sesuai tujuan keuangan dan profil risikonya.

Secara sederhana, sukuk menggunakan prinsip syariah dan memiliki underlying asset, sedangkan obligasi merupakan instrumen utang yang memberikan imbal hasil melalui kupon. Karena karakteristiknya berbeda, investor tidak bisa menentukan instrumen hanya berdasarkan besarnya keuntungan yang ditawarkan.

Tidak ada jawaban mutlak mengenai instrumen mana yang lebih baik karena semuanya bergantung pada tujuan investasi, kebutuhan, serta profil risiko masing-masing investor.

Sukuk Berbasis Prinsip Syariah

Sukuk merupakan surat berharga berbasis syariah yang menunjukkan kepemilikan atas aset atau proyek yang menjadi dasar penerbitannya.

Instrumen ini menggunakan akad syariah, antara lain ijarah atau sewa, mudharabah atau bagi hasil, serta musyarakah atau kerja sama.

Berbeda dari obligasi yang memberikan bunga, imbal hasil sukuk berasal dari mekanisme sesuai akad yang digunakan, seperti pendapatan sewa, margin, atau bagi hasil.

Sukuk juga harus memiliki underlying asset atau aset dasar yang sesuai dengan prinsip syariah. Instrumen ini menghindari unsur riba, maysir, dan gharar serta memiliki pengawasan syariah.

Baca Juga  Penurunan IHSG Picu Kepanikan Investor

Di Indonesia, contoh sukuk ritel yang dikenal investor antara lain Sukuk Ritel (SR) dan Sukuk Tabungan (ST).

Obligasi Berbasis Utang

Obligasi memiliki mekanisme berbeda. Penerbit, baik pemerintah maupun perusahaan, menghimpun dana dari investor melalui penerbitan surat utang.

Investor kemudian memperoleh kupon secara berkala dan menerima kembali pokok investasi ketika obligasi jatuh tempo.

Instrumen ini tidak menggunakan prinsip syariah dan pada dasarnya membentuk hubungan utang-piutang antara investor dengan penerbit.

Obligasi juga memiliki pilihan tenor yang beragam. Jangka waktunya dapat berkisar dari sekitar satu tahun hingga puluhan tahun, bergantung pada jenis dan penerbitnya.

Ini Perbedaan Sukuk dan Obligasi

Perbedaan paling mendasar terletak pada struktur investasi. Pada sukuk, investor memiliki kepemilikan atau hak manfaat atas aset yang menjadi dasar penerbitan. Sementara obligasi menunjukkan hubungan utang antara investor dan penerbit.

Dari sisi imbal hasil, sukuk menggunakan mekanisme sesuai akad syariah. Obligasi memberikan keuntungan melalui kupon dan berpotensi menghasilkan capital gain ketika diperdagangkan di pasar sekunder.

Perbedaan lainnya terdapat pada pengawasan. Sukuk memiliki aspek pengawasan syariah untuk memastikan penerbitannya sesuai prinsip Islam. Obligasi berada dalam sistem keuangan konvensional, meski tetap tunduk pada regulasi dan pengawasan otoritas terkait.

Baca Juga  Ekonomi Tak Menentu, Ini 5 Cara Biar Keuangan Tetap Aman

Dari sisi risiko, keduanya sama-sama tidak bebas risiko. Investor tetap menghadapi kemungkinan gagal bayar dan perubahan harga di pasar.

Karakteristik underlying asset pada sukuk membuat struktur risikonya berbeda dari obligasi, tetapi keberadaan aset dasar tidak berarti sukuk otomatis bebas dari risiko investasi.

Mana yang Lebih Menguntungkan?

Pertanyaan mengenai mana yang lebih menguntungkan tidak bisa dijawab dengan satu pilihan untuk semua investor.

Investor yang ingin menjaga portofolionya sesuai prinsip syariah dapat mempertimbangkan sukuk. Sementara investor yang membutuhkan pilihan instrumen obligasi yang lebih beragam dapat mempertimbangkan surat utang sesuai profil risikonya.

Yang tidak kalah penting adalah memahami tenor, imbal hasil, risiko, likuiditas, serta kondisi penerbit sebelum membeli instrumen investasi.

Dengan memahami karakter masing-masing, investor dapat menentukan apakah sukuk atau obligasi lebih sesuai dengan tujuan keuangan jangka pendek maupun jangka panjang.

Jangan Hanya Mengejar Imbal Hasil

Perbedaan sukuk dan obligasi menunjukkan bahwa keputusan investasi seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan “mana yang paling untung?”

Investor juga perlu melihat bagaimana instrumen tersebut menghasilkan keuntungan, dari mana sumber imbal hasil berasal, berapa lama dana harus ditempatkan, serta risiko yang mungkin muncul.

Baca Juga  Indonesia – AS Perkuat Kemitraan Strategis, Menlu Sugiono Sampaikan Komitmen Investasi dan Isu Palestina

Sukuk menawarkan struktur investasi berbasis syariah dengan aset dasar, sementara obligasi menawarkan mekanisme surat utang dengan kupon. Keduanya dapat ditempatkan dalam strategi diversifikasi selama sesuai dengan tujuan dan kemampuan menanggung risiko.

Dengan kata lain, instrumen yang paling menguntungkan bukan selalu instrumen dengan imbal hasil tertinggi, tetapi yang paling sesuai dengan kebutuhan dan profil investor.

Diversifikasi juga dapat menjadi pertimbangan. Selain sukuk dan obligasi, investor dapat mempertimbangkan instrumen lain seperti emas untuk menyebar risiko dan menjaga keseimbangan portofolio.