Warga AS yang Terjebak di Timur Tengah Frustasi, Merasa Dibiarkan Trump

MAKLUMAT — Warga Amerika Serikat yang terjebak di sejumlah negara Timur Tengah mengaku hidup dalam ketidakpastian setelah konflik kawasan meluas menyusul operasi militer AS dan Israel terhadap Iran. Mereka menyuarakan ketakutan dan kemarahan karena merasa tidak mendapat arahan jelas dari pemerintahnya sendiri. “Saya merasa seperti sasaran empuk,” kata seorang warga Amerika kepada CNN, dikutip Kamis (5/3/2023).

Operasi militer yang dilancarkan AS bersama Israel memicu serangan balasan Iran ke berbagai titik di kawasan. Situasi keamanan berubah cepat, wilayah udara ditutup, dan penerbangan komersial dibatalkan. Dalam kondisi itu, banyak warga AS mendadak terjebak tanpa kepastian kapan bisa pulang.

Seorang warga Amerika yang kini berada di Uni Emirat Arab menggambarkan kebingungan yang ia alami. “Ada rasa frustrasi yang meluas. Apakah kita harus pergi ke bandara? Apakah kita harus tetap berlindung di tempat? Arahan dari pemerintah AS sama sekali tidak jelas, mereka mengatakan untuk berlindung di tempat tetapi juga untuk mencari penerbangan komersial dan tidak ada peringatan sebelumnya bahwa perang akan segera pecah.”

Mereka makin kecewa ketika menelepon saluran bantuan Departemen Luar Negeri. Hingga Selasa siang mereka hanya mendengar pesan rekaman: “mohon jangan bergantung pada pemerintah AS untuk bantuan keberangkatan atau evakuasi saat ini.” Pesan itu meminta warga mendaftar dalam Program Pendaftaran Pelancong Cerdas (Smart Traveler Enrollment Program/STEP) dan menyarankan mereka berlindung sampai situasi memungkinkan untuk bergerak.

Baca Juga  Akankah Iran di Bawah Mojtaba Khamenei Meladeni Tantangan Perang Nuklir Israel?

Pesan tersebut baru diperbarui Rabu pagi dengan pernyataan bahwa AS berkomitmen membantu warganya meninggalkan wilayah tersebut. Namun bagi sebagian orang, perubahan itu datang terlambat.

Forrest Harrington, warga AS yang terjebak di Dubai saat transit sepulang perjalanan kerja dari India, menyebut situasi ini ironis. “Akan sangat lucu jika tidak begitu membuat frustrasi,” ujarnya. Ia mengatakan tidak menerima pembaruan apa pun dari STEP. “Kami memutuskan untuk menyerang Iran, karena tidak tahu harus berbuat apa dengan warga negara kami di negara lain, Anda tahu, sementara itu, Pemerintah UEA telah menampung dan memberi makan saya sejak saya tiba di sini dan saya belum menerima apa pun dari pemerintah saya sendiri.”

Keluhan serupa datang dari Bahrain. “Departemen Luar Negeri menyuruh saya untuk mengungsi, tetapi tidak ada cara untuk melakukannya,” kata Katie, warga AS yang kini terjebak di sana. “Saya tidak percaya tidak ada dukungan untuk warga negara AS yang terdampar ketika AS memulai konflik ini.” Ia mengaku awalnya hanya singgah singkat. “Sekarang saya di sini untuk waktu yang tidak ditentukan, dan mengalami trauma yang semakin parah setiap harinya.”

Baca Juga  Iran Bisa Targetkan Desalinasi Teluk, Dampaknya Lebih Dahsyat Ketimbang Kilang Minyak

Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengatakan belum ada rencana evakuasi karena situasi berkembang terlalu cepat. Pemerintah menyatakan sedang mempertimbangkan berbagai opsi, termasuk penggunaan pesawat militer dan penerbangan sewaan.

Menteri Luar Negeri Marco Rubio pada Selasa sore menyatakan pemerintah “yakin akan mampu membantu setiap warga Amerika.” Ia menjelaskan bahwa pemerintah telah mengidentifikasi penerbangan charter, opsi penerbangan militer, serta bekerja sama dengan maskapai untuk menyediakan pesawat berbadan lebih besar. Namun ia juga mengakui adanya penutupan wilayah udara yang menghambat upaya tersebut.

Seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri mengatakan lembaganya telah membantu hampir 6.500 warga Amerika dengan menyediakan informasi dan membantu pilihan transportasi. Departemen juga mengumumkan telah memfasilitasi penerbangan charter dari Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Yordania, serta membantu pemesanan tiket komersial dari sejumlah negara lain. Warga yang menggunakan layanan tersebut disebut tidak diwajibkan mengganti biaya kepada pemerintah.

Meski demikian, bagi mereka yang masih terjebak, pernyataan resmi itu belum menjawab kecemasan sehari-hari: bandara yang tutup mendadak, tiket yang tak tersedia, dan instruksi yang berubah-ubah. Todd Brown, mantan penjabat asisten menteri luar negeri untuk keamanan diplomatik, mengatakan “tentunya seharusnya ada pemberitahuan” kepada warga Amerika tentang potensi eskalasi. “Kami menempatkan aset militer di wilayah tersebut. Itu adalah perubahan dan peningkatan status. Jadi, saya kira seharusnya ada bantuan konsuler sampai batas tertentu yang memberi nasihat kepada warga Amerika,” ujarnya.

Baca Juga  Perang 12 Hari Berakhir, Abah Shol Serukan Aksi Nyata untuk Perdamaian Dunia

Sementara Departemen Luar Negeri memerintahkan personel non-darurat dan keluarga mereka meninggalkan enam negara di kawasan serta menutup sementara sejumlah fasilitas diplomatik, ribuan warga sipil Amerika masih menunggu kepastian. Mereka diminta bersiap untuk berangkat cepat jika mendapat panggilan, tetapi banyak yang belum tahu kapan panggilan itu akan datang.

Sumber: CNN