MAKLUMAT — Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, Jansen Sitindaon menyatakan dukungannya terhadap langkah-langkah kebijakan luar negeri Indonesia yang diambil pemerintah belakangan ini.
Ia menilai tindakan Presiden Prabowo Subianto dalam setahun terakhir sudah tepat, terutama dalam konteks keamanan dan kepentingan nasional di tengah ketidakpastian geopolitik global.
“Walau pendapatku ini akan banyak ditentang, silakan saja. Namun sudut pandangku ini secara realisme‑pragmatis, yang kaitannya dengan kepentingan nasional dan keamanan kita secara langsung, termasuk keselamatan kita semua,” ujar Jansen melalui akun X pribadinya @jansen_jsp pada Ahad (1/3/2026).
Jansen menekankan bahwa langkah Indonesia seperti bergabung dengan Board of Peace (BoP) dan menjalin hubungan strategis dengan Amerika Serikat serta negara lain merupakan bentuk respons rasional terhadap situasi internasional yang semakin tidak stabil.
Ia menyebut contoh krisis di Venezuela dan ketegangan di Iran sebagai ilustrasi perlunya strategi ini. Terlebih, kemampuan militer dan ekonomi Indonesia saat ini masih terbatas, sehingga konfrontasi langsung dengan negara adidaya akan berisiko tinggi. Jansen meminta publik mempertimbangkan kondisi tersebut sebelum menilai kebijakan pemerintah.
Melihat perkembangan dunia, Jansen menyebut perilaku Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump yang tidak terprediksi, ditambah kecanggihan militer dan kekuatan ekonomi negara itu, membuat pendekatan pragmatis menjadi pilihan realistis bagi Indonesia.
“Melihat keadaan dunia sekarang, ditambah ‘gila’ dan tidak terprediksinya Trump/Amerika, ditambah canggih dan majunya arsenal militer dan peralatan perang merekam di mana bisa mendeteksi manusia secara real time, menyerangnya langsung dll, ditambah kekuatan ekonominya, apa yang dilakukan Pak Prabowo 1 tahun ini menurutku sudah tepat untuk kebaikan kita semua 280 juta rakyat Indonesia, keselamatan dan keamanan bangsa kita,” ungkapnya.
Jansen juga menyoroti perubahan tatanan global dari era multilateralisme yang stabil menuju periode persaingan pragmatis antarnegara. Ia menilai setiap negara kini lebih menekankan hubungan yang memberi keuntungan langsung bagi keamanan dan ekonomi, sambil mengurangi ketergantungan pada negara lain.
Dengan pemahaman geopolitik yang luas, Jansen melihat Presiden Prabowo menyesuaikan diri dengan kekuatan negara lain. Meski terlihat tunduk dalam beberapa kesempatan diplomatik, ia menilai langkah itu bagian dari strategi untuk kepentingan nasional.
Ia menekankan perlunya navigasi yang hati-hati dalam menghadapi kondisi global yang tidak stabil, sembari memperkuat posisi dalam negeri. Strategi ini, menurut Jansen, adalah persiapan Indonesia untuk muncul sebagai kekuatan yang lebih siap di masa depan.
“Sebagaimana kata Deng Xiaoping 50 tahun lalu: ‘Tao Guang Yang Hui’ yang artinya sembunyikan kemampuan dan kekuatanmu, tunggu waktu yang tepat’,” pungkas Jansen.














