Relawan Bramasgana UMSIDA Diterjunkan ke Aceh Tamiang

Relawan Bramasgana UMSIDA Diterjunkan ke Aceh Tamiang

MAKLUMAT — Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) memberangkatkan tim Brigadir Relawan Mahasiswa Tanggap Bencana (Bramasgana) ke Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, Senin (19/1/2026). Para relawan ini dijadwalkan menjalankan misi kemanusiaan selama sekitar dua pekan.

Dosen Prodi Psikologi UMSIDA, Dr Eko Hardi Ansyah menjelaskan bahwa tim yang diberangkatkan terdiri atas dirinya sebagai dosen Psikologi, satu orang laboran Kedokteran Umum, serta sepuluh mahasiswa. Dari jumlah mahasiswa tersebut, lima berasal dari Prodi Psikologi, empat dari Prodi Pendidikan, dan satu dari Prodi Agroteknologi.

Tim Bramasgana UMSIDA ini nantinya akan bergabung dengan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) PWM Jatim yang sudah tiba terlebih dahulu di lokasi bencana. Eko menjelaskan bahwa tim ini bertugas untuk membantu di aspek psikososial hingga sekolah darurat.

“Situasi bencana sudah mereda. Namun selanjutnya adalah bagaimana bisa mengajak para masyarakat untuk kembali ke kehidupan normal,” ujarnya kepada wartawan Maklumat.id sebelum berangkat ke Aceh Tamiang.

Psikososial Bagi Penyintas

Ia juga menjelaskan pentingnya penanganan kondisi pascabencana. Trauma, kehilangan, hingga tekanan psikologis kerap dialami para penyintas. Oleh karena itu, bantuan psikososial menjadi sangat penting untuk membantu proses pemulihan mental dan emosional korban bencana.

Baca Juga  Wakil Rektor Umsida Tekankan Keteladanan dan Kesamaan Visi dalam Kepemimpinan Sekolah

“Banyak penyintas yang mampu bangkit, namun ada juga yang mengalami persoalan pascatrauma yang perlu mendapat pendampingan psikososial. Selain itu, ada pula korban yang terpisah dari lingkungan sosialnya sehingga perlu difasilitasi agar dapat kembali beradaptasi,” jelasnya.

Eko juga menjelaskan bahwa MDMC PWM Jatim sebelumnya telah melakukan asesmen terhadap kebutuhan psikososial para penyintas. Hasil asesmen tersebut nantinya akan menjadi dasar dalam penyusunan program-program pendampingan yang diperlukan.

“Untuk kegiatan psikososialnya sendiri, kami berencana mengajak anak untuk bermain hingga melakukan konseling kepada lansia yang mengalami gangguan stress trauma pasca bencana. Tentunya, program akan kami kembangkan seiring situasi di lapangan,” jelasnya.

Pentingnya Sekolah Darurat

Selain pendampingan psikososial, ia juga menekankan urgensi penyelenggaraan sekolah darurat bagi anak-anak terdampak bencana. MDMC PWM Jatim sudah membangun sekolah darurat yang kini telah berdiri dan beroperasi di lokasi bencana.

Menurut Eko, keberadaan sekolah darurat penting agar bencana tidak membentuk karakter baru yang berdampak buruk bagi masa depan anak-anak. Pasalnya, pada masa pascabencana kegiatan belajar mengajar formal belum berjalan. Jika dibiarkan terlalu lama, kondisi tersebut dikhawatirkan memunculkan kebiasaan kurang baik, seperti bangun siang atau menurunnya disiplin belajar.

Baca Juga  Umsida Borong Penghargaan dalam KISI 2025 Kabupaten Sidoarjo

“Sekolah darurat ini menjadi upaya untuk menjaga dan membangun karakter akademik yang baik. Jika dibiarkan tanpa pendampingan pendidikan, hal ini bisa berbahaya bagi keberlanjutan pendidikan mereka di masa depan,” jelasnya.