MAKLUMAT — Bulan suci Ramadan kurang dari satu bulan lagi. Kendati demikian, masyarakat di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh masih menghadapi dampak serius imbas bencana hidrometeorologi.
Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) PWM Jatim, Muhammad Rofi’i menjelaskan bahwa wilayah ini merupakan salah satu yang menerima dampak paling parah. Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang sendiri telah memperpanjang status masa tanggap darurat bencana hingga 3 Februari 2026.
“Masyarakat akan menyambut bulan suci Ramadan dengan banyak keterbatasan. Oleh karenanya mari tetap menaruh kepedulian. Jangan berpikir semua sudah selesai,” jelasnya kepada wartawan Maklumat.id pada Kamis (22/1/2026).
Sebagaimana diketahui, bencana berupa banjir dan tanah longsor telah melanda tiga provinsi di Pulau Sumatera sejak akhir November 2025 silam. Sejumlah elemen relawan di Indonesia, tak terkecuali MDMC pun turut turun ke lapangan untuk melakukan upaya tanggap darurat dan pendampingan bagi masyarakat terdampak.
MDMC PWM Jatim sendiri mendapat tugas dari PP Muhammadiyah untuk turun ke Kabupaten Aceh Tamiang, setelah sebelumnya juga menangani wilayah Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Tim relawan Muhammadiyah Jatim yang berasal dari berbagai elemen dikoorinasi oleh MDMC PWM Jatim.
Masih Banyak Lumpur
Rofi’i menjelaskan bahwa di Aceh Tamiang, pihaknya telah membuka posko yang mencakup Desa Sunting dan Desa Serba yang terletak di Kecamatan Bandar Pusaka. Saat pertama kali tiba pada akhir Desember 2025 silam, tim relawan berhasil memperbaiki dan menghidupkan lagi saluran air bersih.
Kendati demikian, rumah warga hingga fasilitas publik seperti masjid belum pulih sepenuhnya. Lumpur menjadi salah satu tantangan utama. Sebagian besar lumpur berbentuk cair dan sulit dibersihkan.
“Kalau dibersihkan, kita dilema mau membuang ke mana. Sebab endapan lumpur yang banyak di area luar bangunan bisa kembali masuk ke dalam bangunan saat hujan turun,” ujarnya.
Ramadan yang Tak Lagi Sama
Kondisi yang tak lagi sama seperti Ramadan tahun-tahun sebelumnya tidak membuat masyarakat dan relawan pasrah begitu saja. Rofi’i menjelaskan bahwa pihaknya akan senantiasa memberikan pendampingan serta menyalurkan berbagai bantuan.
“Untuk persiapan Ramadan, kita sudah punya banyak rencana. Salah satunya adalah mempersiapkan musala darurat,” jelasnya.
Selain itu, MDMC PWM Jatim juga akan terus melakukan pendampingan psikologi untuk anak usia 5–13 tahun hingga konseling bagi orang dewasa. Trauma pasca bencana dapat berdampak jangka panjang pada kesehatan mental dan kesejahteraan masyarakat.
Berbagai program lain juga terus dipersiapkan, seperti menyalurkan hygiene kit, lansia kit, sembako, dan paket Ramadan. Selain itu, MDMC PWM Jatim juga akan menggelar pasar gratis dan membagikan paket Lebaran termasuk santunan untuk yatim dan keluarga rentan.
“Kami juga akan menyediakan paket takjil, sahur, hingga berbuka puasa bagi pengungsi. Meski di sini tidak ada Muhammadiyah, Alhamdulillah mereka sangat welcome sekali,” tandasnya.












