Perburuan Robot Stam & Sedh Ramaikan Tarawih Anak, Program Gamifikasi Masjid Al-Marjan Kini Diikuti 902 Peserta di 12 Masjid

MAKLUMAT — Masjid sering dikhawatirkan akan sepi ketika generasi tua tak lagi mampu berjalan ke shaf. Tetapi di Depok, sebuah eksperimen kecil justru menunjukkan arah sebaliknya.

Usai witir, ratusan anak tidak pulang. Mereka berkumpul, antre, dan menandai kehadiran — seakan berkata: masa depan masjid sedang disiapkan dari sekarang.

Di selasar Masjid Al-Marjan, Permata Depok Regency, Ratujaya, Kota Depok, anak-anak usia sekolah dasar berbaris di depan layar TV 40 inci. Satu per satu menempelkan kartu barcode ke alat pemindai yang dipegang relawan Perhimpunan Remaja Masjid (Prisma).

Pada layar muncul ikon robot berwarna oranye, hitam, dan perak. Sosok itulah yang mereka kejar setiap Ramadan, seperti bulan puasa tahun ini yakni: Stam & Sedh.

Selasar yang semula hening seketika berubah riuh, namun tetap tertib. Anak-anak berkalung nametag menunggu giliran presensi tarawih. Setiap anak memiliki akun sendiri, dengan password empat digit nomor ponsel orang tua.

Strategi Mendekatkan Generasi Alpha ke Masjid

Pembina Prisma, Iskandar, mengatakan program ini lahir dari riset DKM tentang cara menghadirkan kegiatan Ramadan yang diminati anak-anak.

Menurutnya, generasi Alpha memiliki karakter unik: tumbuh dalam dunia teknologi, menyukai interaksi kelompok, membutuhkan umpan balik cepat, dan mengutamakan pengalaman menyenangkan dalam belajar maupun beribadah.

“Sering terjadi friksi dengan kaum senior yang ingin suasana masjid tenang. Jika tidak diatasi, 5–10 tahun ke depan masjid bisa kehilangan generasi penerus,” ujarnya.

Ia menyebut kondisi itu sebagai spatial conflict antara kebutuhan anak dan ekspektasi jemaah senior.

Program ini juga berangkat dari keprihatinan menurunnya jumlah anak dan remaja yang datang ke masjid, padahal merekalah yang kelak akan meramaikan masjid di masa depan.

Gamifikasi Ramadan Sejak 2022

DKM Al-Marjan meluncurkan Program Gamifikasi Presensi Harian Ramadan pada 2022.

Konsepnya menggabungkan permainan dengan pembinaan ibadah.

Iskandar menjelaskan tiga keunggulan utama program: Non-gadget dan sederhana. Anak cukup membawa kartu barcode tanpa harus menggunakan ponsel. Kemudian storytelling dan quest. Setiap presensi terasa seperti petualangan yang memiliki alur cerita.

Dan yang terakhir internalisasi nilai agama secara fun. Nilai disiplin, salat berjamaah, dan sedekah ditanamkan melalui simbol permainan.

Tokoh robot dipilih karena dekat dengan dunia anak-anak. Nama robot:

STAM = Shaf Terdepan Anak Masjid

SEDH = Sedekah

Setiap presensi menampilkan bagian tubuh robot dari kaki hingga kepala. Jika tarawih lengkap sampai akhir Ramadan, robot akan terbentuk utuh.

Setelah Idulfitri, panitia memberikan hadiah robot utuh bagi lima peserta dengan kehadiran terlengkap, sementara peserta lain tetap mendapat apresiasi.

Peserta Terus Bertambah dan Meluas

Program ini menunjukkan pertumbuhan signifikan:

2022 → 70 anak

2023 → 120 anak

2024 → 180 anak

2025 → 277 anak

Tahun 2026, program berkembang menjadi kolaborasi lintas daerah.

Sebanyak 12 masjid dan musala di Depok, Bogor, Tangerang Selatan, Tasikmalaya, dan Yogyakarta ikut serta dengan total 902 peserta anak.

“Program ini terus berevolusi dan kami membuka diri agar masjid lain bisa menerapkan sistem serupa. Digitalisasi sangat mungkin dilakukan bersama,” kata Iskandar.

Penggagas kegiatan, Ilham Khalid Setyawan, menambahkan jumlah peserta terus meningkat sejak awal Ramadan.

“Pesertanya sudah 12 masjid dengan total warrior lebih dari 800 dan terus menuju 900,” ujarnya kepada Maklumat.id.

Tarawih Jadi Seru bagi Anak

Syakira (10), peserta dua tahun terakhir, mengaku senang mengikuti program ini.

“Seru banget bisa tarawih bareng teman-teman. Target aku puasa dan tarawih penuh,” katanya.

Hami (10), yang tahun lalu mendapat robot lengkap, juga bertekad mengulang keberhasilan itu.

“Tahun ini juga harus lengkap. Ke masjid sekarang seru, banyak teman. Kalau cuma datang tanpa kegiatan, bosan.”

Siska, salah satu orang tua peserta di Masjid Al-Falah GDC, mengatakan program ini membuat anaknya antusias datang sejak awal Ramadan.

“Mudah-mudahan anak saya jadi pencinta masjid sampai dewasa,” harapnya.

Menyiapkan Masa Depan Masjid

DKM berharap program Stam & Sedh dapat terus berkembang dan menjadi model pembinaan anak masjid di berbagai daerah.

Bagi para pengurus, robot digital itu bukan sekadar hadiah permainan. Ia adalah simbol kedisiplinan, kebersamaan, dan cinta masjid yang ditanamkan sejak dini — agar suara langkah kecil anak-anak hari ini kelak menjadi barisan shaf penuh di masa depan.***