Ali Larijani Terbunuh Serangan Israel, Menlu Abbas Araghchi: Sistem Pemerintahan Iran Tetap Berjalan

Ali Larijani

MAKLUMAT — Pemerintah Iran menegaskan pembunuhan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, Ali Larijani, tidak akan memberikan pukulan fatal bagi kepemimpinan negara. Pernyataan itu disampaikan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dalam wawancara dengan Al Jazeera, menyusul konfirmasi Teheran atas kematian Larijani pada Rabu pagi (18/3/2026), waktu setempat.

Araghchi menilai Amerika Serikat dan Israel keliru jika menganggap sistem politik Iran bergantung pada satu individu. “Saya tidak tahu mengapa Amerika dan Israel masih belum memahami poin ini: Republik Islam Iran memiliki struktur politik yang kuat,” ujarnya. Ia menegaskan, keberadaan atau kehilangan satu tokoh tidak akan memengaruhi stabilitas negara.

Menurut Araghchi, sistem politik Iran dibangun di atas lembaga politik, ekonomi, dan sosial yang mapan, sehingga mampu bertahan dalam situasi krisis sekalipun. Ia bahkan menyinggung kematian pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada awal konflik 28 Februari lalu. “Kita belum pernah memiliki siapa pun yang lebih penting daripada pemimpin itu sendiri, dan bahkan pemimpin pun gugur, namun sistem tetap berjalan,” katanya.

Araghchi menambahkan, mekanisme pergantian kepemimpinan di Iran berjalan cepat dan terstruktur. “Jika ada pejabat yang gugur, akan selalu ada pengganti,” ujarnya.

Baca Juga  Gus Yahya Dorong Prabowo Mediasi Konflik Iran–AS,  Jimly Asshiddiqie: Indonesia Tak Perlu Keluar dari BoP

Pembunuhan Larijani (67), yang dikenal sebagai tokoh berpengaruh di lingkar kekuasaan Teheran, menjadi salah satu kehilangan terbesar sejak pecahnya perang 19 hari terakhir. Selain Larijani, media pemerintah Iran juga mengonfirmasi tewasnya Brigadir Jenderal Gholamreza Soleimani, kepala pasukan Basij di bawah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Dampak Politik dan Eskalasi Konflik

Analis politik senior Al Jazeera, Marwan Bishara, menilai praktik pembunuhan tokoh politik bukanlah norma dalam peperangan. “Dalam perang, Anda tidak memulai dengan membunuh para pemimpin politik. Itu bukan norma perang,” ujarnya. Meski demikian, Bishara mengakui bahwa pembunuhan terarah dapat memengaruhi dinamika konflik. Menurutnya, akumulasi kehilangan tokoh penting dapat mendorong perubahan signifikan dalam jangka panjang.

Dalam wawancara tersebut, Araghchi kembali menegaskan bahwa konflik yang terjadi bukan inisiatif Iran. Ia menuding Amerika Serikat sebagai pihak yang bertanggung jawab atas pecahnya perang dan seluruh dampaknya. “Perang ini bukan perang kita. Kita tidak memulainya,” kata Araghchi.

Ia menambahkan, AS harus bertanggung jawab atas konsekuensi kemanusiaan dan finansial yang timbul, baik bagi Iran maupun kawasan. “Amerika Serikat harus dimintai pertanggungjawaban,” ujarnya. Di tengah eskalasi konflik, Iran menegaskan sistem politiknya tetap solid dan mampu bertahan meski kehilangan sejumlah tokoh kunci dalam waktu berdekatan.

Baca Juga  Kerusuhan Iran Tewaskan 500 Orang, AS Ancam Intervensi, Kemlu Pantau Kondisi WNI

Tokoh Kunci

Melansir Press TV, Dr. Larijani juga menjabat sebagai anggota Dewan Kebijaksanaan Iran dan penasihat senior bagi Pemimpin Revolusi Islam yang gugur, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei. Sebelumnya, Ali Larijani menjabat sebagai Ketua Majelis Permusyawaratan Islam (Majlis) selama 12 tahun sebelum digantikan oleh Mohammad-Baqer Qalibaf.

Sepanjang karier politiknya yang panjang dan sukses, ia juga mengikuti pemilihan presiden dan menjabat sebagai kepala lembaga penyiaran nasional, Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB).

Agresi tanpa provokasi dan ilegal terhadap negara ini dimulai pada tanggal 28 Februari dengan pembunuhan Pemimpin Revolusi Islam, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, serta beberapa komandan militer berpangkat tinggi.

Sebagai balasan, angkatan bersenjata Iran telah melakukan 60 gelombang serangan balasan yang sukses dan menentukan terhadap target-target sensitif dan strategis Amerika dan Israel di seluruh wilayah tersebut. Iran telah bersumpah untuk melanjutkan pembalasan sampai musuh-musuhnya mengalami “kekalahan total”.***