MAKLUMAT — Dalam beberapa tahun terakhir, posisi konten kreator di mata generasi muda berubah secara drastis. Mereka bukan lagi sekadar penghibur yang lewat di beranda, tetapi pelan-pelan menjadi rujukan utama dalam banyak hal: cara berpakaian, memilih skincare, memaknai kesuksesan, bahkan menentukan sikap terhadap isu sosial dan agama. Di banyak rumah, nama YouTuber, selebgram, dan TikToker justru lebih akrab di telinga anak muda dibanding nama guru, ustaz, atau tokoh publik formal.
Perubahan ini sebenarnya bisa dipahami. Konten kreator hadir setiap hari di gawai, berbicara dengan bahasa yang akrab, bercerita dengan gaya yang terasa personal. Mereka membuka sisi hidup yang tampak jujur dan apa adanya, dari rutinitas pagi, isi tas, sampai drama kehidupan. Kedekatan semu inilah yang membuat banyak anak muda merasa seolah-olah mereka “kenal dekat” dengan sang kreator, padahal hubungan itu sejatinya bersifat satu arah dan dibingkai algoritma.
“Masalah mulai muncul ketika kedekatan ini menjelma menjadi kepercayaan yang nyaris tanpa filter.”
Masalah mulai muncul ketika kedekatan ini menjelma menjadi kepercayaan yang nyaris tanpa filter. Banyak anak muda belajar melihat dunia dari sudut kamera idola mereka. Cara berpikir dibentuk oleh narasi yang berulang: apa yang dianggap keren, apa yang dianggap memalukan, siapa yang pantas dihujat, dan siapa yang layak dipuja. Isu-isu kompleks diringkas menjadi video pendek yang memancing emosi, tapi jarang mengundang perenungan lebih dalam. Akibatnya, pola pikir pun mudah terjebak pada kesimpulan cepat dan dikotomi sederhana: pro atau kontra, setuju atau batal follow.
Di sisi lain, konten kreator juga menjadi mesin pemasaran yang sangat efektif. Dengan kemasan “sharing pengalaman pribadi”, mereka merekomendasikan berbagai produk: mulai dari makanan, minuman kekinian, fashion, gadget, hingga produk keuangan. Kata-kata seperti “ini bukan iklan ya, cuma sharing” sering kali justru membuat penonton semakin percaya. Rekomendasi terasa seperti saran dari teman sendiri, bukan pesan promosi yang sudah dihitung matang oleh tim marketing.
Fenomena “diracun” produk pun lahir dari sini. Sekali menonton video haul atau review, tiba-tiba daftar barang yang “sepertinya perlu dibeli” memanjang. Yang semula sekadar ingin tahu, pelan-pelan berubah menjadi ingin mencoba, lalu merasa butuh. Pergeseran dari “ingin” ke “butuh” ini sering terjadi tanpa proses berpikir kritis. Tidak sedikit anak muda yang rela menyisihkan sebagian besar uang sakunya, bahkan mengambil cicilan, demi mengikuti standar gaya hidup yang dipamerkan di layar: nongkrong di kafe tertentu, memakai outfit yang sedang tren, atau terus-menerus mengganti gawai agar tidak dianggap ketinggalan zaman.
Padahal, apa yang ditampilkan konten kreator sering kali hanyalah potongan terbaik dari hidup mereka. Kamera jarang menyorot hari-hari ketika pekerjaan sepi, ketika stres menumpuk, atau ketika pemasukan tidak seindah yang terlihat. Namun bagi penonton, citra yang terbentuk adalah kehidupan yang serba rapi, serba estetik, dan serba layak diunggah. Perbandingan yang terus-menerus antara hidup sendiri dan hidup versi editan ini pelan-pelan bisa menggerus rasa syukur dan menumbuhkan ketidakpuasan permanen terhadap apa yang dimiliki.
Tentu tidak adil jika semua konten kreator digeneralisasi sebagai peracuni generasi muda. Banyak di antara mereka yang justru mendorong literasi, kewirausahaan, kepedulian sosial, bahkan pendalaman keagamaan. Ada yang mengajarkan keterampilan, membantu penonton mengelola keuangan, atau mengajak untuk berdonasi dan berbagi. Ruang digital juga menyimpan banyak teladan baik. Namun, sisi positif ini tidak menghapus fakta bahwa model bisnis sebagian besar platform bertumpu pada atensi dan konsumsi: semakin lama orang menonton dan semakin banyak yang mereka beli, semakin menguntungkan.
Di titik inilah literasi digital menjadi kebutuhan mendesak, bukan sekadar jargon. Generasi muda perlu diajak untuk menyadari bahwa di balik setiap konten, ada motif dan kepentingan: mulai dari sekadar ingin dikenal, hingga murni strategi komersial. Sikap kritis bukan berarti sinis kepada semua kreator, melainkan belajar bertanya dalam hati: “Apakah aku benar-benar butuh ini?”; “Apakah informasi ini bisa dipercaya?”; “Apakah gaya hidup seperti ini realistis untuk kondisiku?”
“Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti itu menjadi rem di tengah derasnya ajakan untuk terus membeli dan mengikuti tren.”
Agar lebih mengena, langkah-langkah kecil tapi konkret bisa ditawarkan. Misalnya, membiasakan diri menunda keputusan belanja minimal satu hari setelah menonton konten review. Atau menetapkan batas anggaran bulanan khusus untuk belanja “gara-gara konten”, lalu disiplin tidak melampauinya. Cara-cara sederhana ini mengembalikan kendali dari layar ke tangan penonton sendiri: bukan lagi “begitu lihat langsung checkout”, tetapi “lihat dulu, pikir dulu, baru putuskan”.
Orang tua, guru, dan dosen juga memegang peran penting. Alih-alih hanya menyalahkan media sosial, mereka bisa mulai dengan sebuah langkah yang tampak sepele: bertanya, “Kamu lagi suka nonton siapa?” lalu benar-benar ikut menonton beberapa kontennya. Dari sana, percakapan kritis bisa dibangun tanpa nada menghakimi. Generasi muda tidak butuh ceramah tambahan tentang betapa buruknya media sosial; mereka butuh orang dewasa yang bersedia menemani mereka memahami dunia digital yang memang menjadi ruang hidup sehari-hari.
Pada saat yang sama, konten kreator yang memiliki pengaruh besar perlu bercermin pada tanggung jawab moral mereka. Setiap tautan “swipe up” dan setiap testimoni yang mereka sampaikan bukan sekadar angka di laporan brand, tetapi juga keputusan nyata di dompet orang-orang yang mempercayai mereka. Kejujuran dalam menyebut konten berbayar, tidak mengglorifikasi utang hanya demi gaya, serta sesekali mengajak audiens untuk berhenti membeli dan mulai memikirkan kembali prioritas, bisa menjadi bentuk tanggung jawab yang sederhana tetapi signifikan.
“Yang paling menentukan bukan seberapa sering kita menonton konten atau siapa yang kita ikuti, tetapi sejauh mana kita berani mengambil kembali kendali atas diri sendiri.”
“Pada akhirnya, yang paling menentukan bukan seberapa sering kita menonton konten atau siapa yang kita ikuti, tetapi sejauh mana kita berani mengambil kembali kendali atas diri sendiri. Generasi muda perlu dilatih untuk bertanya sebelum percaya, menunda sebelum membeli, dan mempertimbangkan dampak sebelum menirukan apa yang viral. Di tengah dunia digital yang terus membujuk kita untuk segera klik dan segera checkout, kedewasaan justru tampak dari kemampuan berkata, ‘tunggu dulu, aku yang memutuskan, bukan algoritma.’ Saat sikap ini tumbuh, konten bukan lagi racun yang menguras pikiran dan dompet, melainkan sekadar hiburan dan informasi yang lewat tanpa harus selalu diikuti.”














