Panel Surya Masuk Pesantren dan Sekolah, Muhammadiyah Cetak Generasi Hemat Energi

Panel Surya

MAKLUMAT — Gerakan transisi energi bersih mulai menyentuh lingkungan pesantren dan sekolah Muhammadiyah. Melalui kolaborasi Perkumpulan Lentera Hijau Indonesia, Program 1000 Cahaya Muhammadiyah, Kitabisa, Lazismu, PP Aisyiyah, serta dukungan teknis Universitas Gadjah Mada (UGM), panel surya kini terpasang di Aisyiyah Boarding School (ABS) Bandung dan SMP Aisyiyah Kota Sukabumi.

Program tersebut tidak sekadar menghadirkan sumber energi terbarukan. Lebih dari itu, pemasangan panel surya menjadi sarana edukasi bagi santri, guru, dan siswa untuk mengenal energi bersih sekaligus menumbuhkan budaya hemat energi sejak dini.

Pemasangan pertama dilakukan di Aisyiyah Boarding School Bandung pada 10 Juni 2026. Sebanyak tiga panel surya berkapasitas 650 watt peak dipasang untuk mendukung kebutuhan energi di lingkungan pesantren.

Energi yang dihasilkan akan dimanfaatkan untuk mengoperasikan pompa air dan sistem pengairan lahan pertanian produktif yang menjadi bagian dari aktivitas pendidikan di pesantren tersebut.

Wakil Mudir ABS Bandung, Teguh Mulyadi, mengatakan kehadiran panel surya akan memperkuat program penghijauan yang selama ini dikembangkan pesantren.

“Panel surya ini akan membantu menghidupkan alat penyiram otomatis untuk lahan pertanian yang kami kelola. Harapannya, pengembangan energi terbarukan dan penghijauan dapat berjalan beriringan di lingkungan pesantren,” ujarnya.

Baca Juga  KOKAM Rasa Banser Ikut Mangayubagyo Muktamar NU ke-35 di Jombang

ABS Bandung dikenal sebagai pesantren berkonsep ramah lingkungan. Berdiri di atas lahan sekitar 18 ribu meter persegi, pesantren ini mengembangkan berbagai program pertanian dan pendidikan lingkungan yang melibatkan santri secara langsung.

Dari Bandung, tim kemudian melanjutkan perjalanan menuju Kota Sukabumi untuk memasang panel surya di SMP Aisyiyah Kota Sukabumi pada 11 Juni 2026.

Sekolah yang berdiri pada 2025 tersebut mengusung konsep Islamic Green School dan saat ini memiliki 11 siswa angkatan pertama yang seluruhnya memperoleh beasiswa penuh.

Kepala SMP Aisyiyah Kota Sukabumi, Siti Sundus Awaliyah, menyebut bantuan panel surya memberikan manfaat ganda, yakni sebagai sumber energi alternatif sekaligus media pembelajaran lingkungan hidup bagi siswa.

“Anak-anak dapat belajar secara langsung tentang energi ramah lingkungan dan pentingnya menjaga keberlanjutan bumi. Kami berharap program ini menginspirasi sekolah lain untuk mulai memanfaatkan energi bersih,” katanya.

Direktur Program 1000 Cahaya Muhammadiyah sekaligus Ketua Perkumpulan Lentera Hijau Indonesia, Hening Parlan, menegaskan bahwa gerakan ini merupakan bagian dari ikhtiar membangun kesadaran ekologis berbasis nilai-nilai Islam Berkemajuan.

“Ini bukan sekadar proyek pemasangan panel surya. Kami ingin menunjukkan bahwa amanah sebagai khalifah di bumi dapat diwujudkan melalui tindakan nyata, termasuk dalam pengelolaan energi yang lebih ramah lingkungan,” ujarnya.

Baca Juga  Silaturahmi Kader Anggota Dewan, Muhammadiyah Kawal Isu-isu Strategis Kebangsaan

Menurut Hening, pesantren dan sekolah dipilih karena menjadi ruang strategis dalam pembentukan karakter generasi muda.

Ketika budaya hemat energi tumbuh di lingkungan pendidikan, lanjutnya, nilai tersebut akan dibawa para siswa dan santri ke keluarga masing-masing sehingga berpotensi berkembang menjadi gerakan sosial yang lebih luas.

Ia juga menilai energi bersih dapat menjadi ruang kolaborasi lintas komunitas dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.

“Kami menyebut energi matahari sebagai energi surga. Energi ini bersih, tidak menghasilkan polusi, dan dapat dimanfaatkan untuk kemaslahatan banyak orang. Menjaga bumi adalah tanggung jawab bersama seluruh umat manusia,” tuturnya.

Program pemasangan panel surya di ABS Bandung dan SMP Aisyiyah Sukabumi menjadi bagian dari upaya memperluas pemanfaatan energi terbarukan di lingkungan pendidikan Muhammadiyah.

Selain menghasilkan listrik, program ini diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran bahwa transisi energi tidak hanya berkaitan dengan teknologi, tetapi juga pendidikan, perubahan perilaku, dan tanggung jawab menjaga lingkungan bagi generasi masa depan.

Dengan langkah yang dimulai dari sekolah dan pesantren, energi matahari kini tidak hanya menerangi ruang belajar, tetapi juga menyalakan harapan lahirnya generasi yang lebih peduli terhadap lingkungan dan masa depan energi Indonesia.***

Baca Juga  Muhammadiyah dan CELIOS Dorong Gerakan Masyarakat Sipil Atasi Ketimpangan Ekonomi