MAKLUMAT — Saat berorganisasi, siapa pun bisa saja mengalami sunyinya dukungan, bahkan dari orang-orang terdekat. Namun, proses itu tak boleh menghentikan langkah untuk terus bertumbuh dan mengabdi bagi organisasi, tak terkecuali di Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM).
Pengalaman itulah yang menjadi bagian dari perjalanan panjang Maheswari Ayu Pratiwi sebelum ia dipercaya mengemban amanah sebagai Bendahara Umum Pimpinan Wilayah (PW) IPM Jatim Periode 2026–2028.
Ia mendapat amanah sebagai Bendahara Umum PW IPM Jatim setelah melalui mekanisme Musyawarah Wilayah (Musywil) XXIV IPM Jatim yang digelar di BBPPMPV BOE, Kota Malang pada Jumat–Ahad, 3–5 Juli 2026.
“Fun fact-nya, dulu saya ingin sekali memakai dan punya jas IPM. Jadi caranya supaya dapat itu dengan saya join ke IPM,” ceritanya kepada wartawan Maklumat.id pada Rabu (8/7/2026).
Mahes—sapaan akrabnya—menyebut bahwa perjalanan di IPM telah memberinya banyak pelajaran tentang arti sebuah pengabdian. Ia menyebut ketulusan kawan-kawan seperjuangan menjadi bagian yang menguatkan langkahnya selama berproses di organisasi.
Baginya, setiap proses yang dilalui dalam organisasi memiliki tantangannya masing-masing. Namun, ketulusan dalam menjalani proses itulah yang membawanya bertemu dengan orang-orang yang terus memberikan dukungan dan membersamai langkahnya.
“Jadi untuk seluruh kader, teruslah berproses dengan tulus, karena di ikatan ini kita tidak pernah dibiarkan berjalan sendirian,” ujar perempuan yang sedang menempuh Program Studi S1 Psikologi di Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA) tersebut.
Kini, dengan menyandang amanah baru sebagai Bendahara Umum PW IPM Jatim, Mahes bertekad untuk memberikan kontribusi terbaik agar organisasi semakin adaptif, solutif, dan inklusif, serta tetap dekat dengan akar rumput kader.
“Semoga kita bisa melahirkan program-program yang membumi, berdampak langsung pada pelajar Jatim, dan meninggalkan warisan sistem organisasi yang lebih rapi, mandiri, dan modern,” harapnya.
Digitalisasi Sistem Keuangan Jadi Prioritas
Menjadi Bendahara Umum di organisasi sebesar PW IPM Jatim bukan perkara mudah bagi Mahes. Ia mengaku perasaannya bercampur aduk antara rasa syukur dan tanggung jawab besar yang harus dipikul.
“Perasaan saya saat dipilih adalah perpaduan antara amanah yang besar dan rasa syukur atas kepercayaan yang diberikan. Menjadi Bendahara Umum di wilayah sebesar Jatim tentu bukan perkara mudah,” jelasnya.
Mahes menambahkan bahwa amanah ini menjadi pengingat bahwa setiap keputusan yang diambil harus dipertanggungjawabkan. Ia ingin memastikan pengelolaan keuangan organisasi berjalan dengan baik sehingga seluruh program yang telah dirancang dapat terlaksana sesuai kebutuhan.
“Ada tanggung jawab besar dalam mengelola instrumen finansial organisasi demi mendukung semua gerakan dakwah IPM ke depan,” ujarnya.
Dari amanah besar itu, Mahes pun telah memetakan arah kerjanya ke depan. Ia akan berupaya mendorong kemandirian ekonomi organisasi berbasis digital dan pemberdayaan kader, dengan salah satu program prioritasnya adalah digitalisasi sistem keuangan.
“Program prioritas yang ingin saya jalankan antara lain, digitalisasi sistem keuangan, transparansi dan akuntabilitas keuangan PW IPM Jatim berbasis aplikasi atau platform digital agar koordinasi dengan daerah hingga cabang lebih inklusif,” jelasnya.
Setiap Rupiah adalah Amanah
Sebelum berada di posisinya sekarang, Mahes berproses dari struktur paling bawah. Berbagai pengalaman itu, kata dia, telah banyak mengajarkan makna amanah dalam mengelola keuangan organisasi.
Sebelumnya, ia pernah menjabat Ketua Umum PR IPM MTs Muhammadiyah 4 Sugihwaras (2018), Sekretaris PR IPM SMA Muhammadiyah 4 Sugihwaras (2019-2021), Ketua Bidang Perkaderan PC IPM Sugihwaras (2019-2021), hingga Sekretaris PD IPM Bojonegoro (2021-2023). Pada 2023, ia mulai menembus tingkat wilayah sebagai Sekretaris Bidang Kesehatan PW IPM Jatim.
Selain di IPM, pengalaman organisasinya terbentang mulai dari Ketua Bidang Humas Tapak Suci UMSURA, Sekretaris Jenderal BEM UMSURA, Ketua Bidang Kader PK IMM Allende, Ketua Bidang Organisasi Koorkom IMM UMSURA, Direktur Sekretaris Komunitas Narasi Jatim, dan masih banyak lagi.
Semua pengalaman itu telah membentuk cara pandangnya dalam menjalankan amanah organisasi. Selain itu, pengalaman jatuh bangun menggalang dana kegiatan di berbagai jenjang organisasi mengajarkannya bahwa setiap rupiah yang dikelola memiliki tanggung jawab dan nilai pengabdian.
“Pengalaman mengelola keuangan dan administrasi di tingkat sebelumnya mengajarkan saya bahwa uang organisasi adalah amanah umat yang tiap rupiahnya harus berdampak pada ideologi kader,” tandasnya.
*) Penulis: Lail Zahwa Efrilia Dwi Efendi














