Polemik The Sounds Project, Warek UMJT Soroti Etika dan Manajemen Acara  

MAKLUMAT — Kasus tantangan hafalan Surah Ad-Dhuha berhadiah minuman beralkohol merek Newport di booth promosi The Sounds Project Vol. 9, Ecopark Ancol, Jakarta Utara, Ahad (9/8/2026), terus menuai kritik

Aktivitas yang terekam dalam video dan beredar di media sosial itu dinilai berkaitan dengan penggunaan ayat Al-Qur’an dalam kegiatan promosi minuman beralkohol.

Wakil Rektor (Warek) Bidang Akademik Universitas Muhammadiyah Jawa Timur (UMJT) Madiun, Dr Fajar Junaedi, menilai persoalan tersebut perlu dilihat dari sisi etika dan manajemen acara. Ia menilai penggunaan hafalan Al-Qur’an sebagai tantangan untuk memperoleh minuman beralkohol tidak tepat karena menyentuh nilai sakral agama.

“Al-Quran adalah kalamullah yang suci. Mengaitkannya dengan produk yang diharamkan dalam Islam bukan sekadar salah langkah pemasaran, melainkan pelecehan terhadap nilai sakral yang dianut mayoritas masyarakat Indonesia,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (16/8/2026).

Video yang beredar memperlihatkan seorang pengunjung perempuan membacakan Surah Ad-Dhuha melalui mikrofon di booth Newport. Setelah menyelesaikan bacaan, orang-orang di sekitar booth bersorak. Pengunjung tersebut kemudian diduga menerima sebotol minuman beralkohol sebagai hadiah.

Menurut pakar ilmu komunikasi tersebut, kejadian ini juga menunjukkan persoalan dalam pengelolaan acara. Ia menyoroti pengawasan di area booth yang dinilainya belum mampu mencegah aktivitas yang berpotensi menimbulkan persoalan etika dan hukum.

Baca Juga  Polemik SKNC 2026, Fajar Junaedi Jelaskan Benturan Makna Simbol di Ruang Publik

“Dalam event management, kontinjensi plan seharusnya mencakup skenario penyelenggaraan event, siapa saja yang berhak berbicara, dan memegang mikrofon. Kelemahan pengawasan yang membiarkan pengunjung mengambil alih mikrofon adalah bentuk kelalaian yang berujung pada krisis reputasi dan hukum,” tegasnya.

Fajar mengatakan penyelenggara acara dan pemilik merek perlu memperhatikan risiko yang muncul dari setiap aktivitas promosi. Menurut dia, pengawasan terhadap interaksi pengunjung dengan fasilitas promosi menjadi bagian penting dalam mencegah kejadian serupa.

Ia berharap kasus tersebut menjadi bahan evaluasi bagi penyelenggara acara dan brand yang menjalankan kegiatan promosi di ruang publik. Pertimbangan etika, menurutnya, perlu ditempatkan dalam perencanaan komunikasi agar kepentingan komersial tidak menimbulkan persoalan yang lebih luas.

“Etika bisnis dan komunikasi publik harus selalu menempatkan sensitivitas agama di atas kepentingan komersial. Jika tidak, kepercayaan publik akan terus terkikis,” pungkasnya.​

 

*) Penulis: M Habib Muzaki