Iskandar Muda Hasibuan: Masa Depan Pendidikan Ditentukan oleh Kualitas Guru, Integritas, dan Keberanian Berubah

Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PWM Aceh, Iskandar Muda Hasibuan. (Foto: Dok.)

MAKLUMAT — Ketua Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Aceh, Dr Tgk H Iskandar Muda Hasibuan, menekankan pentingnya konsolidasi internal untuk memperkuat mutu pendidikan Muhammadiyah, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta menyiapkan satuan pendidikan menghadapi tantangan masa depan.

Pesan tersebut ia sampaikan dalam kegiatan konsolidasi internal Majelis Dikdasmen dan PNF PWM Aceh di Kompleks Perguruan Muhammadiyah Blang Panas, Kabupaten Bener Meriah, Rabu (14/10/2026).

Kegiatan tersebut menjadi forum untuk menyamakan visi, menyelaraskan program, dan memperkuat koordinasi pengelolaan pendidikan di lingkungan Muhammadiyah Aceh.

Dalam menghadapi perubahan sosial, perkembangan teknologi, dan meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap mutu pendidikan, kualitas guru menjadi salah satu aspek yang perlu mendapat perhatian.

Iskandar menyebut, peran guru tidak hanya dituntut menjalankan fungsi pengajaran, tetapi juga perlu adaptif, berintegritas, terbuka terhadap inovasi, serta mampu membangun karakter peserta didik.

Sebab itu, ia menegaskan bahwa penguatan kompetensi guru juga perlu diarahkan pada peningkatan kualitas pembelajaran di ruang kelas. Program pengembangan profesional, pendampingan, pertukaran praktik baik, serta pemanfaatan teknologi perlu dilaksanakan secara berkelanjutan agar memberikan dampak nyata bagi proses belajar mengajar.

Baca Juga  Mendidik Anak Tanpa Kekerasan: Pembiasaan Sikap Baik Kunci Pembentukan Karakter

Selain peningkatan kualitas guru, satuan pendidikan perlu membangun budaya kerja yang mendorong kolaborasi, disiplin, dan kreativitas. Sekolah juga dituntut menyiapkan peserta didik dengan kemampuan berpikir kritis, literasi digital, kecakapan sains dan numerasi, serta karakter yang kuat.

Pemanfaatan kecerdasan buatan dan teknologi digital dapat menjadi bagian dari pembaruan pembelajaran. “Namun, penerapannya tetap perlu memperhatikan etika, tanggung jawab, perlindungan data, dan nilai-nilai kemanusiaan,” tandasnya.

Berbagai pembaruan tersebut harus berjalan beriringan dengan penguatan identitas, akhlak, dan komitmen terhadap kemajuan masyarakat. Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi diharapkan tetap selaras dengan nilai-nilai yang menjadi landasan pendidikan Muhammadiyah.

Lebih jauh, konsolidasi internal juga dipandang penting untuk memastikan keselarasan antara kebijakan tingkat wilayah, pelaksanaan program di daerah, kepemimpinan sekolah, serta peran guru dan tenaga kependidikan.

Iskandar menandaskan bahwa setiap program pendidikan perlu memiliki tujuan yang jelas, indikator keberhasilan yang dapat dievaluasi, dan mekanisme tindak lanjut yang berkesinambungan. Data mengenai kebutuhan sekolah, kondisi tenaga pendidik, mutu pembelajaran, dan kesenjangan antardaerah dapat menjadi dasar penentuan prioritas.

Dengan pendekatan tersebut, ia berharap pengelolaan pendidikan menjadi semakin transparan dan akuntabel. Keberhasilan program, kata Iskandar, tidak hanya diukur dari jumlah kegiatan yang terlaksana, tetapi juga dari peningkatan kapasitas guru, kualitas pembelajaran, dan layanan pendidikan yang dirasakan peserta didik.

Baca Juga  Terpilih Aklamasi, Rektor UMJ Ma'mun Murod Jadi Ketua Umum FR-PTMA 2025-2028

Komunikasi publik yang terbuka dan berbasis fakta turut menjadi bagian penting dalam pengelolaan lembaga pendidikan. Informasi mengenai program dan capaian sekolah perlu disampaikan secara jelas, proporsional, dan dapat dipertanggungjawabkan agar kepercayaan masyarakat tetap terjaga.

Kepercayaan tersebut juga dibangun melalui konsistensi antara pernyataan dan tindakan, kualitas layanan, keteladanan pemimpin, serta kemampuan lembaga merespons persoalan secara terbuka dan bertanggung jawab.

Dalam konteks ini, konsolidasi pendidikan Muhammadiyah di Aceh menjadi bagian dari upaya memperkuat kontribusi pendidikan bagi masyarakat. Sekolah diharapkan mampu menyediakan layanan yang inklusif, memperhatikan kebutuhan peserta didik, serta membuka kesempatan berkembang tanpa membedakan latar belakang maupun kondisi geografis.

Kegiatan di Bener Meriah menjadi ruang untuk memperkuat koordinasi dan menyamakan arah kebijakan. Tantangan selanjutnya adalah menerjemahkan hasil konsolidasi menjadi program yang realistis, terukur, dan konsisten dilaksanakan di setiap satuan pendidikan.

Peningkatan mutu pendidikan membutuhkan kerja sama organisasi, sekolah, guru, dan tenaga kependidikan. Melalui penguatan kompetensi pendidik, tata kelola yang akuntabel, serta pembelajaran yang adaptif, pendidikan Muhammadiyah diharapkan dapat terus berkontribusi dalam mencetak generasi berilmu, berkarakter, dan siap menghadapi perubahan zaman.***

*) Penulis: Rizki Maulizar

Baca Juga  Menteng Institute: Kepemimpinan Abdul Mu’ti di Kemendikdasmen Inklusif dan Berkeadilan