Dari Gezi Park ke Malioboro, Suporter Sepak Bola dan Repertoar Tindakan

Penulis: Fajar Junaedi. *)

MAKLUMAT — Yogyakarta dipenuhi demonstrasi pada 28 Oktober 2026. Hari yang bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda ke-98. Simbol tiga blok warna vertikal hijau, biru, dan merah, menjadi  visual yang terkenal dan viral. Warna-warna ini tidak terjadi secara kebetulan. Mereka yang mendukung PSS Sleman membanggakan warna hijau, PSIM Yogyakarta mengasosiasikan warna biru, dan Persiba Bantul lekat dengan warna merah. Warna merah juga identik dengan Persis Solo, yang meskipun secara administratif berada di luar Yogyakarta, namun memiliki kedekatan kultural.

Fenomena ini menarik karena ketiga kelompok pendukung tersebut secara historis sangat bersaing di wilayah Mataram. Namun, mereka membuat narasi Mataram is Love setelah tragedi Kanjuruhan 2022. Narasi yang menekankan persaudaraan di atas perbedaan klub. Berhadapan dengan stigma negatif media arus utama terhadap suporter sepak bola, terutama stigma kekerasan dalam sepak bola, suporter sepak bola membuktikan tidak sepenuhnya mereka adalah pesakitan sebagaimana yang dituduhkan media arus utama.

Simbol hijau-biru-merah ditampilkan di tiang lampu, poster, dan tempat aksi. Ini berfungsi sebagai sarana untuk mengaitkan identitas pendukung dengan tuntutan politik yang lebih luas, seperti upah layak, represi aparat, masalah lingkungan, dan kritik terhadap pemerintah. Dalam politik jalanan, partisipasi suporter dalam aksi unjuk rasa menunjukkan bagaimana repertoar yang sudah dikuasai dalam sepak bola dapat dihidupkan kembali.

Baca Juga  Partai Politik Ada di Mana?

Ömer Turan dan Burak Özçetin dalam artikel berjudul Football Fans and Contentious Politics: The Role of Çarşı in The Gezi Park Protests yang terbit di International Review for the Sociology of Sport  (2019) menyebutkan suporter Çarşı dari klub Beşiktaş di Turki sebagai unusual suspects (aktor yang tidak biasa) dalam gerakan sosial saat aksi unjuk rasa melawan pemerintah di tahun 2013.

Aksi unjuk rasa ini bermula dari rencana pemerintah Turki merobohkan Gezi Park, salah satu ruang hijau terakhir yang tersisa di pusat Istanbul. Pemerintah Turki ingin menggantinya dengan proyek komersial berupa pusat perbelanjaan yang meniru arsitektur barak Ottoman lama. Sekelompok aktivis lingkungan dan warga lokal mulai melakukan aksi duduk untuk melindungi taman. Ketika polisi membubarkan aksi tersebut dengan gas air mata dan kekerasan berlebihan, kemarahan publik meledak. Isu lingkungan dengan cepat berubah menjadi protes yang lebih luas terhadap otoritarianisme, represi polisi, kebebasan berekspresi, dan kepemimpinan pemerintah. Kelompok suporter Çarşı terlibat secara intens dalam aksi unjuk rasa.

Peran mereka dapat dipahami melalui konsep repertoar tindakan (action repertoires). Sebuah konsep dalam teori gerakan sosial yang merujuk pada sekumpulan cara yang sudah dikenal, dan biasa digunakan oleh sekelompok orang ketika mereka melakukan protes, atau berkonflik dengan pihak berwenang. Pengalaman sebelumnya dalam bentrokan dengan polisi, baik saat pertandingan maupun aksi lain, memberi mereka kapasitas untuk terorganisir dan efektif saat Gezi.  Pola yang serupa terlihat dalam aksi yang terjadi di Yogyakarta pada 28 Oktober 2026, meskipun dengan skala dan intensitas yang berbeda.

Baca Juga  RUU Perampasan Aset: Antara Efektivitas Penegakan Hukum dan Ancaman Erosi Prinsip Konstitusi

Dalam konteks aksi unjuk rasa di Gezi Park, Çarşı berperan kunci sejak fase awal protes. Mereka terlibat dalam bentrokan dengan polisi menggunakan gas air mata,  dan water cannon. Suporter yang berpengalaman dalam mengorganisir diri saat berhadapan dengan aparat, membawa pengalamannya di Gezi Park untuk  membantu mengorganisir massa yang tersebar, dan membangun soliditas keberanian. Dari wawancara mendalam dengan anggota Çarşı dan peserta Gezi, muncul frasa bahwa “Çarşı was the force maintaining order at Gezi.” Mereka membantu menciptakan paritas dengan polisi saat bentrokan dan menjaga ketertiban  saat aksi. Mereka mencegah penjualan alkohol berlebih dan menahan kelompok yang ingin menyerang kantor perdana menteri. Peran ini menunjukkan ketegangan antara kebiasaan menantang otoritas dan kebutuhan akan koordinasi tertentu.⁠

Dalam aksi di Yogyakarta, massa berhadapan dengan preman dari ormas yang lekat dengan kekerasan. Di media sosial, warganet menguliti preman yang terlibat dalam kekerasan saat kontra aksi. Hal ini semakin menunjukkan bagaimana warna simbolik merah-biru-hijau menyerupai apa yang ditunjukkan oleh Ömer Turan dan Burak Özçetin dalam kasus Çarşı di Gezi Park. Pengalaman kolektif di tribun, dalam hal mengorganisasi dan menggerakkan, menggunakan simbol untuk membangun kolektivitas, maupun ketahanan terhadap tekanan, sangat penting ketika suporter sepak bola memutuskan untuk turun ke jalan bersama aktor gerakan sosial lainnya.

Baca Juga  Jangan Dibenturkan, Karena yang Retak Bukan Profesi

Keterlibatan suporter seperti ini menunjukkan bahwa tribun stadion tidak hanya tempat untuk menyalurkan emosi saat mendukung klub bermain sepak bola. Tribun stadion menjadi laboratorium sosial tempat kesadaran dan kemampuan kolektif untuk bertindak bersama terus dilatih. Kesadaran sosial yang sepenuhnya perlu terus dirawat.***

Penulis: Fajar Junaedi

Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah Jawa Timur (UMJT) Madiun