MAKLUMAT – Tangan-tangan kecil itu terangkat bersamaan. Beberapa siswa kelas IV SD Muhammadiyah 4 Surabaya tampak antusias menjawab pertanyaan berbahasa Inggris yang dilontarkan tamu asing di depan kelas. Wajah mereka berbinar, sesekali diselingi tawa malu-malu. Pagi itu, ruang kelas SD Mudipat tak sekadar menjadi tempat belajar biasa, tetapi jendela kecil menuju isu global: menyelamatkan bumi.
Empat perwakilan EPHEC Bruxelles, Belgia yang terdiri dari Isabelle, Ines Sari, Selin Saglam, dan Moussa Maiga, hadir menyapa para siswa dalam program sosialisasi Sustainable Development Goals (SDGs), hasil kolaborasi internasional EPHEC Bruxelles dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).
Dengan bahasa sederhana dan presentasi visual yang menarik, Moussa Maiga dan lainnya mengajak anak-anak memahami bahwa bumi yang mereka tinggali perlu dijaga bersama. “SDGs adalah kesepakatan negara-negara di dunia untuk melindungi planet ini. Mulai dari menjaga lingkungan, kesehatan, sampai keadilan bagi semua,” tutur Moussa kepada maklumat.id, Kamis (5/2/2026).
Tak ada ceramah panjang. Anak-anak diajak berdialog, menebak gambar, dan berbagi kebiasaan sederhana yang biasa mereka lakukan di rumah maupun di sekolah. Dari mematikan lampu, memilah sampah, hingga membawa botol minum sendiri. Hal-hal kecil, namun bermakna.
“Bagi anak muda, perubahan besar sering dimulai dari kebiasaan kecil,” kata Moussa. Ia percaya, jika kesadaran itu ditanamkan sejak dini, anak-anak akan tumbuh menjadi generasi yang lebih peduli terhadap lingkungan.
Kepala SD Muhammadiyah 4 Pucang, Edy Susanto, S.Pd., M.Pd., tak menampik rasa bangganya melihat respons para siswanya.
“Anak-anak sangat antusias. Komunikasi berjalan lancar karena mereka sudah terbiasa menggunakan bahasa Inggris, baik dari kelas Cambridge maupun kelas reguler,” ujarnya.
Menurut Edy, kegiatan tersebut terasa selaras dengan keseharian siswa SD Mudipat. Sekolah ini dikenal menerapkan konsep sekolah sirkular dengan lima prinsip utama: rethink, reuse, reduce, recycle, dan repair. “Nilai-nilai itu tak hanya diajarkan, tetapi juga dipraktikkan dalam aktivitas harian siswa,” ungkapnya.
Selain isu lingkungan atau save the planet, anak-anak juga dikenalkan pada nilai-nilai SDGs lainnya seperti pendidikan berkualitas, kesetaraan gender, pengurangan kesenjangan, perdamaian dan keadilan, serta perlindungan ekosistem darat.
Bagi Edy, anak-anak sekolah dasar memang menjadi kunci masa depan. “Mereka lebih mudah menerima nilai-nilai kebaikan. Apa yang mereka pelajari hari ini, akan membentuk cara mereka bersikap di masa depan,” katanya.
Hari itu, pelajaran tentang bumi tak datang dari buku tebal. Ia hadir lewat dialog hangat, tawa anak-anak, dan keyakinan sederhana: bahwa menjaga planet bisa dimulai dari ruang kelas kecil di Pucang, Surabaya.(*)














