MAKLUMAT — Berapa harga oksigen? Pertanyaan ini terdengar biasa. Terutama sejak COVID-19. Pertanyaan yang lazim diajukan kepada penjual alat kesehatan. Bukan kepada orang yang sedang duduk menikmati secangkir kopi di pagi hari.
Tetapi keadaan punya cara sendiri untuk mengubah pertanyaan biasa menjadi pertanyaan yang tidak biasa. Saat kabut asap kebakaran hutan dan lahan menyelimuti Kalimantan, kita seperti baru tersadar.
Oksigen yang kita hirup setiap hari ternyata ada harganya. Sebuah tabung oksigen berukuran kecil, sekitar satu meter kubik, lengkap dengan regulator dan selang, berkisar Rp400.000 hingga Rp750.000. Isi ulangnya lebih murah. Sekitar Rp20.000 hingga Rp50.000. Sementara paket tabung b aru, lengkap dengan oksigen dan regulator, berada di kisaran Rp450.000 hingga Rp650.000.
Harga itu tentu bukan sesuatu yang aneh dalam keadaan normal. Yang menjadi aneh adalah ketika kita balik bertanya: Berapa harga oksigen yang kita hirup pagi ini?
Nah. Di situ kita seperti tercekat. Berhenti. Sebab oksigen yang kita hirup ternyata tidak pernah kita beli. Kita bangun tidur. Membuka mata. Lalu bernapas. Tidak ada kasir. Tidak ada kuitansi.
Tidak ada petugas yang datang mengetuk pintu sambil berkata, “Bapak, oksigen bulan ini belum dibayar.” Kita bernapas begitu saja. Gratis.
Barangkali karena gratis itulah kita sering lupa bahwa bernapas adalah nikmat. Karena terlalu sering menghela napas, nikmat itu menjadi terlalu biasa.
Yang Gratis Sering Kali Tidak Kita Hargai
Manusia memang agak lucu. Yang mahal sering kita jaga. Yang gratis sering kita abaikan.
Kita memasang pagar tinggi untuk menjaga rumah. Membeli brankas untuk menyimpan barang berharga. Mengunci kendaraan. Bahkan kadang memotretnya dengan smartphone sebelum tidur, sekadar memastikan masih berada di tempat. Tetapi udara? Kita tidak pernah menguncinya.
Sebab memang tidak bisa. Udara ada di mana-mana. Ia masuk ke rumah. Masuk ke kamar. Masuk ke kendaraan. Masuk ke paru-paru. Kita tidak pernah memintanya.
Ia datang sendiri. Dan mungkin di situlah cara Tuhan mengajarkan tentang kemurahan-Nya.
Ada begitu banyak hal yang diberikan tanpa kita minta. Tanpa kita bayar.
Kita hanya menerimanya. Lalu lupa bersyukur. Sampai suatu ketika udara berubah menjadi asap.
Barulah kita mencari masker. Barulah kita menutup pintu dan jendela.
Barulah kita melihat kualitas udara. Barulah kita bertanya tentang PM2.5.
Barulah kita mulai memikirkan paru-paru. Dan pada keadaan yang lebih buruk, barulah kita mencari oksigen. Yang sejak awal sudah ada di sekitar kita.
Al-Qur’an dan Nikmat yang Tidak Kita Hitung
Al-Qur’an memang tidak menyebut kata “oksigen” sebagaimana kita mengenalnya sekarang.
Istilah itu lahir dari perkembangan ilmu pengetahuan modern.
Tetapi Al-Qur’an berkali-kali mengajak manusia memperhatikan alam.
Angin. Tumbuh-tumbuhan. Langit. Air. Api. Dan kehidupan.
Bila kita buka Surat Yasin ayat 80, misalnya, Allah SWT berfirman:
“Allah yang menjadikan api untukmu dari kayu yang hijau, maka seketika itu kamu nyalakan api dari kayu itu.” Ayat ini mengajak kita berpikir. Memandang sesuatu yang sebenarnya setiap hari ada di depan mata. Kayu yang hijau. Tumbuhan. Kehidupan. Alam.
Ilmu pengetahuan kemudian menjelaskan berbagai proses yang terjadi di dalamnya.
Tumbuhan hijau memiliki peran penting dalam siklus oksigen melalui fotosintesis.
Kita boleh menjelaskannya dengan istilah-istilah ilmiah.
Karbon dioksida. Klorofil. Sinar matahari. Fotosintesis.
Setelah semua istilah ilmiah itu selesai dijelaskan, masih ada satu pertanyaan sederhana:
Siapa yang menyediakan semuanya?
Pohon tidak pernah meminta gaji.
Matahari tidak pernah mengirimkan tagihan.
Angin tidak pernah memasang tarif.
Dan udara tidak pernah dijual dalam satuan tarikan napas.
Mungkin karena itulah manusia merasa alam ini miliknya.
Padahal mungkin kita hanya sedang diberi kesempatan untuk menikmatinya.
Kita Baru Ingat Udara Ketika Dada Sesak
Al-Qur’an juga menggambarkan keadaan manusia yang dadanya terasa sempit ketika berada di tempat yang tinggi.
Dalam QS. Al-An’am ayat 125 disebutkan:
“…Dia jadikan dadanya sempit lagi sesak, seolah-olah dia sedang mendaki ke langit…”
Ilmu pengetahuan kemudian menjelaskan hubungan antara ketinggian, tekanan udara, dan ketersediaan oksigen.
Tetapi bagi saya, ada sesuatu yang bisa direnungkan.
Kita baru menyadari pentingnya sesuatu setelah sesuatu itu berkurang.
Atau hilang.
Kita baru tahu nikmat sehat setelah sakit.
Kita baru tahu nikmat air setelah kekeringan.
Kita baru tahu nikmat listrik setelah padam.
Dan mungkin kita baru tahu nikmat udara bersih setelah udara berubah menjadi asap.
Begitulah manusia.
Agak terlambat dalam urusan bersyukur.
Angka yang Tidak Lagi Sekadar Angka
Pada Kamis, 3 September 2026 pukul 11.00 WIB, data kualitas udara BMKG menunjukkan angka PM2.5 yang mengkhawatirkan di sejumlah wilayah.
Mempawah tercatat 333,6 µg/m³ dan masuk kategori Berbahaya.
Sintang 202,6 µg/m³.
Palangkaraya 164,9 µg/m³.
Keduanya masuk kategori Sangat Tidak Sehat.
Pekanbaru, Kota Jambi, Muaro Jambi, dan Kemayoran juga berada dalam kategori Tidak Sehat.
Bagi orang yang bekerja dengan angka, semua itu mungkin hanya data.
Tetapi bagi orang yang sedang berada di sana, angka itu bukan sekadar angka.
333,6 bukan sekadar angka yang dibaca tiga ratus tiga puluh tiga koma enam.
Itu udara. Udara yang dihirup. Udara yang masuk ke paru-paru.
Udara yang masuk ke tubuh anak-anak. Udara yang dihirup para ibu yang sedang mengandung.
Udara yang dihirup para bayi yang baru saja lahir.
Di situlah angka kehilangan sifatnya. Ia berubah menjadi ancaman bagi manusia.
Sesak. Batuk. Mata perih. Tenggorokan kering.
Dan rasa khawatir seorang ibu ketika anaknya mulai sulit bernapas.
Lalu Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Pertanyaan ini penting. Sebab setelah membaca berita tentang karhutla, kita biasanya melakukan hal yang paling mudah: Mengeluh.
Mengeluh tentang asap.
Mengeluh tentang pemerintah.
Mengeluh tentang pelaku pembakaran.
Mengeluh tentang cuaca.
Mengeluh tentang semuanya.
Mengeluh memang tidak membutuhkan biaya.
Tetapi saudara-saudara kita yang terdampak membutuhkan sesuatu yang lebih konkret.
Mereka membutuhkan uluran tangan. Membutuhkan perhatian. Membutuhkan masker.
Membutuhkan makanan. Membutuhkan air bersih.
Membutuhkan obat-obatan dan layanan kesehatan.
Dalam situasi tertentu, mereka juga membutuhkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kita mungkin jauh dari Kalimantan. Tidak semua orang bisa datang membawa selang pemadam. Tidak semua orang bisa menjadi relawan di lapangan.
Tidak semua orang mempunyai kemampuan untuk melakukan sesuatu yang besar. Tetapi membantu tidak selalu harus besar.
Kita bisa menyisihkan sebagian rezeki.
Kita bisa membantu melalui lembaga kemanusiaan, organisasi sosial, lembaga zakat, komunitas relawan, atau kanal bantuan resmi pemerintah daerah.
Yang penting bukan seberapa besar kita merasa mampu.
Yang penting adalah apakah kita bersedia berbagi ketika saudara kita sedang membutuhkan.
Sebab ada keadaan ketika rasa syukur tidak cukup hanya diucapkan.
Ia harus diwujudkan.
Kalau hari ini kita masih bisa membuka jendela dan menghirup udara tanpa rasa khawatir, mungkin salah satu cara mensyukurinya adalah membantu orang lain yang hari ini bahkan tidak bisa melakukan hal sesederhana itu. Bernapas.
Jangan Menunggu Bencana Datang ke Rumah Kita
Kita sering merasa bencana adalah urusan orang lain.
Kebakaran terjadi di Kalimantan. Banjir terjadi di daerah lain.
Tanah longsor terjadi di tempat yang jauh.
Maka kita menonton. Kita membaca. Kita berkomentar.
Lalu kita kembali kepada kehidupan masing-masing.
Barangkali memang begitu sifat manusia.
Bencana terasa jauh selama belum mengetuk pintu rumah sendiri.
Tetapi kemanusiaan mestinya tidak bekerja seperti itu.
Hari ini mereka. Besok barangkali kita. Karena itu, jangan menunggu asap masuk ke halaman rumah kita untuk memahami arti solidaritas.
Jangan menunggu anak sendiri batuk untuk peduli kepada anak orang lain.
Jangan menunggu harga oksigen menjadi mahal untuk memahami bahwa udara bersih adalah nikmat. Sebab ada nikmat yang sebenarnya tidak perlu kita beli.
Kita hanya perlu menjaganya.
Gratis Bukan Berarti Tidak Berharga
Mungkin selama ini kita terlalu sibuk menghitung harga. Harga rumah.
Tanah. Mobil. Makanan. Listrik. Bahan bakar.
Kita pandai menghitung hampir semuanya.
Tetapi kita lupa menghitung napas.
Padahal setiap hari kita menghabiskan ribuan tarikan napas.
Dan tidak satu pun kita bayar. Gratis.
Barangkali itulah kemurahan Tuhan yang paling sering kita lupakan.
Allah SWT berfirman dalam QS. Ar-Rahman ayat 13:
“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”
Ayat itu diulang berkali-kali.
Seolah manusia memang membutuhkan pengingat yang berulang-ulang untuk menyadari sesuatu yang sebenarnya selalu ada di depan mata.
Kita tidak perlu menunggu udara menjadi mahal.
Ada nikmat yang begitu dekat, begitu biasa, hingga kita lupa bahwa ia adalah karunia.
Bernapas.
Wallahu a’lam bish-shawab.***













