Dorong Kemandirian Usaha Pangan, Anak LPKA Blitar Dibekali Dasar-Dasar Mengelola Usaha

LPKA

MAKLUMAT — Kewirausahaan menjadi salah satu bekal yang mulai diperkenalkan kepada anak binaan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas I Blitar sebagai upaya menumbuhkan kemandirian setelah mereka kembali ke masyarakat. Melalui pelatihan sederhana, anak-anak tidak hanya dikenalkan pada budidaya ayam petelur, tetapi juga diajarkan dasar-dasar mengelola sebuah usaha.

Perwakilan PT Jatinom sekaligus Tim Lazismu, Sigit Prayitno, menjelaskan bahwa pengelolaan usaha harus dimulai dari kebiasaan sederhana, yakni mencatat setiap proses produksi. Menurutnya, pencatatan menjadi dasar untuk mengetahui perkembangan usaha sekaligus mengambil keputusan yang tepat. Hal ini disampaikan di LPKA Kelas I Blitar dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional 2026 pada Selasa (21/7/2026).

“Hari ini dicatat, makannya berapa kilo. Kemudian kalau sudah mulai produksi juga dicatat berapa jumlah telurnya. Dari situ anak-anak akan belajar yang namanya laporan rugi laba,” ujarnya.

Ia mengatakan, memahami arus biaya dan hasil produksi merupakan keterampilan penting dalam membangun jiwa wirausaha. Dengan cara tersebut, anak-anak dilatih berpikir lebih terstruktur sebelum menentukan langkah dalam menjalankan usaha.

“Sebenarnya, memelihara ayam ini untung atau tidak, dilihat dari pakan yang diberikan satu hari, dibayar dengan telur satu hari, masih ada sisanya atau tidak. Kalau masih ada sisanya, berarti masih untung,” jelasnya.

Baca Juga  Haedar Nashir: Kurangi Pendapat, Perbanyak Pendapatan!

Bagi Sigit, pelatihan tersebut bukan sekadar mengajarkan cara memelihara ayam, melainkan menanamkan pola pikir untuk mengelola usaha secara bertanggung jawab. Kemampuan menghitung biaya, memahami hasil produksi, hingga mengambil keputusan menjadi bagian dari keterampilan yang diharapkan dapat diterapkan anak-anak di kemudian hari.

“Nanti setelah keluar dari pembinaan, diharapkan anak-anak bisa mandiri, bisa berusaha,” katanya.

Selain memperkenalkan dasar-dasar kewirausahaan, pelatihan tersebut juga menjadi bagian dari penguatan kemandirian pangan. Anak-anak dikenalkan pada pemanfaatan hasil ternak yang tidak hanya bernilai konsumsi, tetapi juga memiliki potensi ekonomi apabila dikelola secara berkelanjutan.

“Kalau bau kotoran ayam, jangan dianggap bau kotoran. Itu bau uang. Karena kotorannya bisa diolah menjadi pupuk dan memiliki nilai jual,” tutur Sigit.

Ia menambahkan, setiap orang dapat berbagi ilmu sesuai dengan bidang yang dikuasainya. Baginya, kompetensi yang dimiliki akan lebih bermanfaat apabila dapat menjadi bekal bagi orang lain untuk membangun masa depan yang lebih mandiri.

“Kenapa saya mengajarkan pemeliharaan ayam? Karena saya bisanya ayam. Kalau saya bisa bertani atau menanam buah, saya akan ajarkan. Karena saya tidak bisa, maka saya mengajarkan bagaimana cara memelihara ayam,” ungkapnya.

Baca Juga  Umsida Entre Vibes Vol. 1 Jadi Wadah Kreativitas, Pertemukan Puluhan Ide dan Inovasi Usaha Muda

Pelatihan tersebut diharapkan tidak hanya menumbuhkan keterampilan teknis, tetapi juga membangun pola pikir wirausaha yang mampu melihat peluang dari berbagai sumber daya di sekitar. Dengan bekal itu, anak binaan diharapkan memiliki kepercayaan diri untuk memulai usaha dan menciptakan kemandirian ekonomi setelah menyelesaikan masa pembinaan.

“Mudah-mudahan nanti setelah ada ayamnya, betul-betul bisa merasakan bagaimana cara tata laksana memelihara ayam. Seperti yang disampaikan, salah satu program pemerintah adalah tentang ketahanan pangan,” pungkasnya.

 

*) Penulis: Nasywa Athirah