Fenomena Pekerja Kasar Organisasi: Ketika yang Berkeringat Cuma Itu-itu Saja

organisasi

MAKLUMAT — Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) hari ini tidak pernah kekurangan orang yang menduduki posisi strategis di dalam maupun di luar organisasi. Berjas rapi, bangga mengenakan PDH, dan tersenyum lebar saat foto bersama usai pelantikan.

Namun, IMM sedang berada dalam krisis akut terhadap satu kelas anggota: mereka yang rela mengotori tangan di lumpur lapangan, pasang badan saat menghadapi risiko besar, dan tetap mendayung meskipun anggota lainnya memilih menjadi penumpang gelap yang cari aman.

Catatan ini tentu bukan untuk mengagungkan elite organisasi yang sibuk berwacana di balik meja, melainkan sebuah bentuk rekognisi bagi para “Pekerja Kasar Organisasi”. Mereka adalah mesin penggerak yang sering kali tidak kelihatan dalam dokumentasi formal, tetapi menjadi alasan utama mengapa IMM hari ini masih bernyawa dan menolak bubar.

Mengapa Harus “Pekerja Kasar Organisasi”?

Menggunakan kata “pekerja kasar” dalam konteks organisasi mungkin terdengar janggal, bahkan cenderung kasar. Bukankah organisasi dibentuk atas dasar kesukarelaan dan kesamaan ideologi? Mengapa harus ada istilah kelas pekerja di dalamnya?

Jawabannya sederhana: karena kita perlu jujur melihat realitas pembagian kerja yang timpang. Ketika kita bicara tentang buruh kasar di dunia industri, mereka adalah orang-orang yang menjual tenaga fisik dan stamina di garda paling depan demi berjalannya roda ekonomi pemilik modal.

Di dalam organisasi, fenomena serupa terjadi. Bedanya, para “Pekerja Kasar Organisasi” ini tidak dibayar dengan materi. Mereka mengorbankan waktu tidur, memeras energi fisik untuk mengurus teknis lapangan, dan pasang badan mengambil risiko paling besar—mulai dari risiko dicap buruk, konflik interpersonal, hingga sanksi nyata—hanya agar roda organisasi tetap berputar.

Baca Juga  Faisal Terpilih Secara Aklamasi Nahkodai UKM STKIP Muhammadiyah Abdya 2025-2026

Sementara di sisi lain, ada kelas anggota yang hanya ingin menikmati status tanpa harus lelah mengeluarkan keringat.

Fenomena “Penumpang Gelap” ala Mancur Olson

Realitas menyebalkan ini sebenarnya sudah lama dipotret oleh sosiolog sekaligus ekonom, Mancur Olson, melalui konsepnya yang terkenal, yakni free-rider problem atau masalah penumpang gelap. Olson menjelaskan bahwa dalam sebuah kelompok atau gerakan, banyak orang yang memilih menjadi penumpang gelap.

Mereka ingin organisasi tetap hidup dan mendapatkan keuntungan dari eksistensi organisasi tersebut (seperti menterengnya CV atau jaringan relasi), tetapi mereka enggan menyumbangkan tenaga dan sama sekali tidak mau mengambil risiko besar. Mereka memilih mode “aman”.

Akibatnya, terjadi hukum alam yang tidak adil. Karena mayoritas anggota memilih menjadi penumpang gelap yang pasif, seluruh beban biaya operasional, kerja fisik, dan risiko keamanan akhirnya sepenuhnya jatuh ke pundak segelintir orang yang militan. Kelompok minoritas inilah yang menanggung semua “biaya hidup” organisasi, sementara anggota yang pasif tinggal menumpang nama dan menikmati hasilnya.

Pembagian Kerja yang Pincang dan Bom Waktu Organisasi

Jika kita bawa fenomena ini ke kacamata Émile Durkheim soal division of labour (pembagian kerja), kondisi ini mencerminkan sebuah patologi organisasi yang disebut anomic division of labour—pembagian kerja yang pincang atau anomik.

Baca Juga  Cangkir Opini Ajak Generasi Muda Malang Mengawal Pemilu 2024 yang Sejuk dan Damai

Durkheim berargumen bahwa sebuah sistem atau organisasi yang sehat idealnya bekerja seperti tubuh manusia yang memiliki pembagian fungsi yang saling bergantung (interdependency). Ada yang berpikir secara konseptual, ada yang mengeksekusi di lapangan, dan semuanya bergerak seimbang.

Namun, ketika aturan dan komitmen kolektif di internal organisasi runtuh karena apatisme massal, pembagian kerja tersebut menjadi rusak. Beban kerja tidak lagi terdistribusi secara adil.

Kelompok elite konseptual terlalu jauh berjarak di balik meja rapat, anggota biasa memilih abai, sedangkan para Pekerja Kasar Organisasi dipaksa menjadi “kuda beban” tunggal yang memikul semua urusan domestik hingga taktis lapangan. Atau jangan-jangan, urusan konseptual dan taktis lapangan kini diborong semua oleh para pekerja kasar ini?

Mengapa mereka memutuskan mengambil jalan melelahkan tersebut? Jawabannya ironis. Mereka bergerak bukan lagi karena sistem organisasi berjalan sehat, melainkan karena rasa bersalah dan ketakutan. Mereka takut jika mereka berhenti berkeringat, maka hanya tinggal tunggu waktu nama IMM akan berakhir di buku sejarah Muhammadiyah sebagai ortom mati yang pernah menaungi mahasiswa.

Menolak Bubar, Tapi Sampai Kapan?

Militansi para Pekerja Kasar Organisasi ini adalah berkah sekaligus kutukan. Di satu sisi, karena ketangguhan merekalah organisasi masih punya taji. Di sisi lain, membiarkan roda organisasi digerakkan dengan cara pincang seperti ini secara terus-menerus adalah bom waktu. Cepat atau lambat, kelompok minoritas yang militan ini akan menemui titik jenuhnya (activist burnout).

Baca Juga  Eri Cahyadi Ajak Kolaborasi Pengembangan Energi Terbarukan, Rektor Umsura: Kami Sangat Terbuka dan Komitmen

IMM yang sehat seharusnya tidak dibangun oleh segelintir kader kesepian yang memikul semua risiko di lapangan, sementara sisanya hanya menjadi penonton yang sibuk memoles reputasi. Seharusnya, ia menjadi ruang tumbuh yang adil untuk semua anggota di dalamnya.

Pada akhirnya, ruang-ruang kolektif IMM hari ini tidak pernah kekurangan kader yang duduk di kursi strategis, berjas rapi, dan tersenyum lebar saat jepretan kamera pelantikan. Namun, kita selalu berada dalam krisis akut terhadap mereka yang rela mengorbankan jam istirahatnya, mereka yang kilometer kendaraannya habis hanya demi menghidupi komisariatnya tanpa pernah masuk dalam sorot kamera utama.

Jadi, coba lihat kembali posisi kita di organisasi saat ini. Apakah kita bagian dari elite konseptual yang cari aman, penumpang gelap yang hobi numpang nama, atau justru si Pekerja Kasar Organisasi—yang dikontrak borongan selama satu periode, dan secara tidak sadar lanjut ke periode kedua?

 

*) Penulis: Kurniawan Sugiarto

Sekretaris Bidang Kader Koorkom IMM UIN Sunan Ampel Surabaya