MAKLUMAT — Pemerintah India menutup sebuah fakultas kedokteran di wilayah Kashmir yang dikelola India, menyusul gelombang protes kelompok Hindu sayap kanan yang mempersoalkan dominasi mahasiswa Muslim dalam angkatan pertamanya.
National Medical Commission (NMC) pada 6 Januari mencabut pengakuan Shri Mata Vaishno Devi Medical Institute (SMVDMI), perguruan tinggi kedokteran yang berlokasi di distrik Reasi, kawasan pegunungan di wilayah Jammu dan Kashmir.
Dari total 50 mahasiswa yang diterima dalam program Sarjana Kedokteran (MBBS) lima tahun pada November lalu, seperti dilansir Al Jazeera pada Kamis (15/1/2026), sebanyak 42 orang beragama Islam. Mayoritas berasal dari wilayah Kashmir. Sisanya terdiri dari tujuh mahasiswa Hindu dan satu mahasiswa Sikh. Angkatan tersebut merupakan angkatan MBBS pertama yang dibuka kampus itu.
SMVDMI merupakan perguruan tinggi swasta yang didirikan oleh badan amal keagamaan Hindu dan mendapat dukungan dana pemerintah.
Protes Berlarut, Tekanan Politik Menguat
Penerimaan mahasiswa kedokteran di India dilakukan melalui ujian nasional terpusat, National Eligibility cum Entrance Test (NEET), yang bersifat meritokratis dan tidak mempertimbangkan latar belakang agama.
Namun, komposisi mahasiswa SMVDMI memicu reaksi keras kelompok Hindu lokal. Mereka menggelar aksi demonstrasi selama berminggu-minggu di depan kampus. Para demonstran menuntut agar penerimaan mahasiswa Muslim dibatalkan dengan alasan kampus tersebut didanai dari persembahan umat Hindu di Kuil Mata Vaishno Devi.
Tekanan politik ikut menguat. Sejumlah legislator dari Bharatiya Janata Party (BJP) mengirim petisi kepada Letnan Gubernur Kashmir agar penerimaan mahasiswa di SMVDMI dibatasi hanya untuk umat Hindu. Tuntutan itu kemudian berkembang menjadi seruan penutupan kampus.
Izin Dicabut, Alasan Dipertanyakan
Di tengah eskalasi protes, NMC mengumumkan pencabutan izin SMVDMI dengan alasan kampus tersebut tidak memenuhi standar minimum pendidikan kedokteran. NMC menyebut adanya kekurangan dosen, rendahnya keterisian tempat tidur rumah sakit pendidikan, serta keterbatasan fasilitas penunjang akademik.
Namun, mahasiswa membantah temuan tersebut. Mereka menilai fasilitas kampus memadai dan bahkan lebih baik dibanding sejumlah fakultas kedokteran lain. Sejumlah pengamat juga mempertanyakan keputusan regulator yang dinilai muncul secara tiba-tiba setelah protes berbasis identitas agama menguat.
Mahasiswa Dipindahkan
Seluruh mahasiswa angkatan pertama SMVDMI kini dipulangkan. Pemerintah daerah Kashmir memastikan mereka akan dipindahkan ke fakultas kedokteran lain tanpa kehilangan hak pendidikan.
Menteri Kepala Kashmir, Omar Abdullah, menegaskan negara bertanggung jawab atas masa depan mahasiswa. Ia mengecam pihak-pihak yang mendorong penutupan kampus. Menurutnya, polemik tersebut telah mengorbankan masa depan pelajar yang lolos seleksi nasional secara sah.
Organisasi mahasiswa di Kashmir juga mengingatkan bahaya narasi berbasis agama dalam dunia pendidikan. Mereka menilai pendekatan tersebut berpotensi mengkomunalisasi sektor pendidikan dan merusak prinsip meritokrasi.
Bagi para mahasiswa, penutupan kampus itu meninggalkan ketidakpastian. “Kami lulus ujian nasional yang sangat ketat. Tapi semuanya runtuh karena identitas,” ujar salah satu mahasiswa. “Prestasi kami diubah menjadi soal agama.”***












