Krisis Minyak Global, Era Petro Yuan Dimulai

MAKLUMAT — Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira Adhinegara menilai bahwa yuan sebagai mata uang China semakin diuntungkan di tengah dinamika krisis minyak global.

“Ada mata uang yang paling untung saat terjadi krisis minyak. Dolar Amerika Serikat? Bukan, apalagi rupiah. Jawabannya adalah yuan China,” ujarnya melalui akun Instagram pribadinya @bhimayudhistira pada Kamis (2/4/2026).

Sebagaimana diketahui, penutupan efektif Selat Hormuz telah berdampak pada lonjakan harga energi global dan mendorong sejumlah negara melepas cadangan energi strategis. Selat Hormuz adalah jalur yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia.

“90% ekspor minyak Iran, terutama saat terjadinya pemblokiran Selat Hormuz, itu tujuannya adalah China. Ini disebut sebagai Petro Yuan, bukan lagi era Petro Dolar,” ujar Bhima.

Petro Yuan sendiri adalah istilah untuk transaksi perdagangan minyak mentah dunia yang menggunakan mata uang Yuan China atau Tiongkok (CNY/RMB) sebagai alat pembayaran, alih-alih menggunakan Dolar AS (USD)

“Era Petro Yuan dimulai. Trump salah strategi. Harga minyak naik, ekonomi China makin dominan, Trump makin tidak populer. Rahasianya ada di transaksi energi menggunakan yuan China,” ujarnya.

Baca Juga  Mengapa Kapal Perang AS Waspada di Selat Hormuz? Iran Punya “Azhdar UUV" Naga Bawah Laut

Bhima juga menyebut bahwa pihak Iran minta dibayar bukan menggunakan dolar untuk hindari sanksi dari negara barat. Iran minta dibayar dengan mata uang yuan. Ia menilai langkah tersebut sekaligus menunjukkan arah dedolarisasi yang efektif.

“Ke depan bukan cuma minyak, tapi juga komponen energi terbarukan. Modul panel surya harganya makin murah, dari China itu akan dibeli menggunakan yuan. Seperti yang terjadi juga di Pakistan,” tandasnya.