KHGT Jadi Dasar Penetapan Awal Ramadan, Achmad Zuhdi: Langkah Historis Muhammadiyah

KHGT Jadi Dasar Penetapan Ramadan, Achmad Zuhdi Langkah Historis Muhammadiyah

MAKLUMAT — Muhammadiyah telah mengambil langkah penting dalam menetapkan awal Ramadan di tahun 2026. Penetapan ini untuk pertama kalinya menggunakan KHGT atau Kalender Hijriah Global Tunggal sebagai acuan.

Sebagaimana diketahui, sebelumnya Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah mengeluarkan Maklumat No 2/ MLM/I.0/E/2025 yang menginformasikan bahwa 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026 dan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.

Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PWM Jatim, Prof Achmad Zuhdi menekankan bahwa langkah ini bukan sekadar soal penanggalan. Penggunaan KHGT menandai perkembangan metodologis yang signifikan bagi Muhammadiyah. Ia menyebutnya sebagai sebuah langkah historis yang penting.

“Penetapan 1 Ramadhan 1447 H bertepatan dengan 18 Februari 2026 M memiliki makna strategis dan historis bagi Muhammadiyah. Untuk pertama kalinya, penentuan awal Ramadhan dilaksanakan secara resmi dengan menggunakan KHGT sebagai dasar penanggalan,” ujarnya kepada wartawan Maklumat.id pada Senin (12/1/2026).

Zuhdi menjelaskan, KHGT bukan sekadar instrumen teknis. Sistem ini merupakan kalender syar‘i yang memberikan kepastian waktu ibadah dan memperkuat fungsi kalender sebagai mawāqīt li al-nās wa al-ḥajj.

“Penetapan ini menandai transisi metodologis yang sadar dan bertanggung jawab dari pendekatan kalender lokal menuju kalender Hijriah yang bersifat global, konsisten, dan berjangka panjang,” jelasnya.

Baca Juga  Praktik Nyata Filantropi, SD Muhammadiyah 24 Surabaya Semarakkan Ramadan Berkarakter Humanis

Ia juga menekankan bahwa KHGT juga mencerminkan konsistensi Muhammadiyah dalam menerapkan maqāṣid al-syarī‘ah. Sistem ini menggunakan pendekatan ijtimak–fajar secara global untuk menentukan awal bulan, sekaligus meminimalkan perbedaan penanggalan antarwilayah.

“Selain itu, penetapan ini mencerminkan implementasi pendekatan ijtimak–fajar dalam kerangka global serta konsistensi Muhammadiyah dalam menjadikan maqāṣid al-syarī‘ah, khususnya kepastian hukum, kemaslahatan, dan kesatuan umat, sebagai landasan kebijakan tarjih,” tandasnya.

Apa itu KHGT?

Melansir laman resmi Muhammadiyah, KHGT berangkat dari keresahan bahwa umat Islam di seluruh dunia masih menghadapi disparitas dalam memulai ibadah-ibadah utama, seperti puasa Ramadan dan Idulfitri. Perbedaan ini tidak hanya membingungkan, tetapi juga berpotensi merenggangkan persatuan umat.

Sepanjang peradaban Islam berkembang di seluruh belahan dunia, sudah banyak sekali cendekiawan Muslim yang memiliki keresahan yang sama. Yakni mereka memandang bahwa aneh sekali jika umat Islam belum mempunyai satu kalender yang bersifat global. Upaya perumusan kalender global sudah beberapa kali dilakukan, namun belum menghasilkan konsensus.

Oleh karenanya, dalam Muktamar Ke-47 tahun 2015 di Makasar, diputuskan bahwa Muhammadiyah memandang perlu untuk adanya upaya penyatuan kalender hijriyah yang berlaku secara internasional sehingga dapat memberikan kepastian. Hingga kemudian pada tahun lalu, KHGT telah selesai dirumuskan oleh Muhammadiyah.

Baca Juga  Muslim di Hongaria: Jalani Puasa 16 Jam dan Rayakan Idulfitri dengan Suka Cita

KHGT lalu diperkenalkan dan diusulkan sebagai solusi integratif untuk mewujudkan prinsip “satu hari, satu tanggal” bagi seluruh umat Islam. Meski demikian, pro dan kontra masih terjadi karena perbedaan persepsi di seluruh dunia Islam.