MAKLUMAT — Perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran berpotensi mengguncang perekonomian global. Konflik yang sudah berlangsung berhari-hari ini dapat memicu lonjakan harga energi sekaligus mengganggu rantai pasok internasional.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Palu, Umar Hannase menilai dampak awal perang akan terlihat dari sisi global, terutama pada suplai dan harga komoditas strategis.
“Tentu perang yang sudah berhari-hari berlangsung ini akan mengakibatkan guncangan pada suplai dan harga secara global,” ujarnya kepada wartawan Maklumat.id pada Sabtu (7/3/2026).
Sebagaimana diketahui, perang ini telah menjadikan Selat Hormuz dalam situasi ketegangan tinggi. Meski tidak ditutup sepenuhnya, namun Selat Hormuz beroperasi di bawah protokol keamanan perang khusus.
Menurut Umar, Selat Hormuz adalah titik krusial global yang menjadi jalur utama distribusi minyak dunia. Sekitar 20 persen konsumsi minyak global melewati jalur tersebut sehingga gangguan sekecil apa pun dapat langsung memicu lonjakan harga minyak mentah.
Ia memperkirakan harga minyak dunia berpotensi melonjak hingga kisaran 120 hingga 150 dolar AS per barel apabila konflik terus berlanjut. Selain itu, ketegangan di kawasan tersebut juga dapat memicu gangguan rantai pasok global karena Selat Hormuz juga adalah jalur perdagangan laut internasional.
“Selat Hormuz itu saya ibaratkan sebagai titik nadi perdagangan minyak dunia. Sekitar 20 persen konsumsi global melewati jalur itu. Kalau kemudian jalur ini terganggu, harga minyak mentah itu dengan cepat akan meningkat,” ujarnya.
Umar menambahkan, terganggunya jalur perdagangan laut akan memicu lonjakan biaya logistik hingga asuransi perkapalan. Kondisi tersebut pada akhirnya akan memengaruhi aktivitas perdagangan global serta meningkatkan biaya distribusi berbagai komoditas.
Dampak lanjutan juga akan dirasakan oleh Indonesia, terutama dari sisi fiskal. Kenaikan harga minyak dunia akan menekan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) karena Indonesia masih bergantung pada impor minyak.
Dalam situasi ini, pemerintah dihadapkan pada pilihan sulit. Pemerintah dapat menambah subsidi bahan bakar minyak yang berpotensi memperlebar defisit anggaran, atau menaikkan harga BBM domestik yang berisiko memicu inflasi lebih tinggi.
“Karena kita adalah salah satu negara importir minyak, kenaikan harga minyak dunia itu akan memberikan ancaman langsung bagi APBN. Maka itu akan berimbas ke beban subsidi BBM,” jelas pria yang juga adalah Ketua PW Pemuda Muhammadiyah Sulawesi Tengah tersebut.
Selain tekanan fiskal, Umar melihat dampak perang juga akan terasa pada sektor moneter. Sentimen risk-off global dapat mendorong arus modal keluar dari Indonesia, sehingga menekan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Depresiasi rupiah akan meningkatkan biaya impor bahan baku industri yang masih banyak bergantung pada pasokan luar negeri. Kondisi tersebut berpotensi menekan margin keuntungan perusahaan domestik dan pada akhirnya memicu kenaikan harga barang.
Kenaikan biaya transportasi dan logistik akibat potensi penyesuaian harga BBM juga dapat memicu inflasi. Dampaknya akan terasa langsung pada harga kebutuhan pokok dan menurunkan daya beli masyarakat.
“Kalau kita lihat secara ringkas, dampaknya pertama dari sektor energi, kemudian moneter, investasi, dan perdagangan. Harga minyak pasti melonjak, subsidi bisa membengkak, nilai tukar tertekan, IHSG bisa terkoreksi, dan perdagangan juga terganggu karena logistik global tidak stabil,” katanya.












