MAKLUMAT — Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur menilai sound horeg bukan lagi sekadar persoalan hiburan. Penggunaan pengeras suara berdaya besar itu dinilai telah menimbulkan gangguan bagi masyarakat, kerusakan bangunan, hingga korban jiwa.
Ketua PWM Jawa Timur Sukadiono mengatakan dampak negatif sound horeg semakin jelas karena telah memunculkan persoalan di tengah masyarakat.
“Keberadaan sound horeg terbukti banyak mudaratnya. Dampak negatif yang ditimbulkan juga demikian jelas. Apalagi sudah mengakibatkan korban jiwa. Di samping kerusakan bangunan di area sekitar. Belum lagi kebisingan suara yang terjadi,” kata Sukadiono seperti dilansir Kumparan, Kamis (10/9/2026).
Menurut Sukadiono, persoalan tersebut perlu ditangani secara tegas agar tidak berkembang menjadi konflik antarwarga.
Ia meminta aparat menegakkan aturan terhadap penyelenggara maupun pihak yang menggunakan sound horeg.
“Supaya tidak terjadi clash antarwarga, terutama penyedia jasa, penyewa, dan pihak-pihak yang merasa terganggu, aparat harus tegas menegakkan aturan. Ketegasan aparat penting untuk memitigasi agar masyarakat tidak main hakim sendiri,” ujarnya.
Sukadiono juga mengajak tokoh masyarakat dan organisasi keagamaan ikut mengedukasi warga. Menurut dia, penyelesaian persoalan sound horeg tidak cukup hanya mengandalkan aparat penegak aturan.
“Tokoh-tokoh informal dari kalangan agamawan, ormas, dan masyarakat penting terlibat aktif menyadarkan agar tidak ada pihak yang bermain-main dengan keberadaan sound horeg. Apalagi hanya untuk kepentingan ekonomi,” katanya.
Ia menilai penggunaan sound horeg yang mengabaikan kepentingan masyarakat dapat mengganggu ketenangan dan memicu kegaduhan.
Sound Horeg dalam Perspektif Fisika
Dari sisi sains, suara yang dihasilkan pengeras suara berdaya besar dapat dijelaskan melalui prinsip dasar gelombang bunyi.
Mengutip laman Pendidikan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Surabaya (UNESA), dikutip Jumat (11/9/2026), bunyi merupakan gelombang mekanik longitudinal yang merambat melalui medium. Kajian fisika terhadap bunyi mencakup sejumlah konsep, antara lain frekuensi, amplitudo, intensitas, resonansi, interferensi, serta pemantulan gelombang.
Frekuensi berkaitan dengan tinggi rendahnya nada, sedangkan amplitudo berkaitan dengan besar kecilnya perubahan tekanan gelombang.
Pada suara berdaya besar, terutama yang memiliki komponen frekuensi rendah, energi akustik dapat menimbulkan sensasi getaran pada tubuh maupun benda di sekitar.
Gelombang bunyi juga dapat dipantulkan oleh permukaan keras seperti dinding dan lantai. Dalam kondisi tertentu, interaksi gelombang dengan lingkungan dapat memperkuat suara pada titik tertentu.
Namun, klaim mengenai kerusakan bangunan akibat sound horeg tetap membutuhkan pembuktian teknis. Pengukuran tingkat tekanan bunyi, spektrum frekuensi, jarak sumber suara, kondisi lingkungan, dan karakteristik bangunan diperlukan untuk mengetahui hubungan sebab-akibat.
Artinya, suara dapat diukur dan dampaknya dapat diuji dengan data.
Ketika Hiburan Bertemu Hak Warga
Bagi PWM Jawa Timur, persoalan utama bukan semata-mata keberadaan perangkat pengeras suara. Yang menjadi perhatian adalah ketika penggunaannya menimbulkan gangguan, kerugian, korban, atau konflik dengan masyarakat sekitar.
Karena itu, PWM mendorong aparat menegakkan aturan secara tegas. Pada saat yang sama, tokoh agama, organisasi kemasyarakatan, dan masyarakat diminta ikut mencegah persoalan sound horeg berkembang menjadi konflik horizontal.
Sebab, ketika hiburan mulai mengganggu ketenangan orang lain, persoalannya tidak lagi hanya tentang seberapa keras suara yang boleh dimainkan.
Ada pertanyaan yang lebih besar: sampai di mana hak seseorang menikmati hiburan, dan kapan hak itu mulai berbenturan dengan hak warga lain untuk hidup tenang dan aman?













