MAKLUMAT — Perpustakaan selama ini identik dengan gedung yang didatangi masyarakat untuk membaca atau meminjam buku. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) kini mendorong perubahan cara pandang tersebut.
Pustakawan dan pegiat literasi diminta lebih aktif hadir di tengah masyarakat untuk melihat langsung persoalan literasi.
Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas, Suharyanto, mengatakan Hari Kunjung Perpustakaan tidak semestinya hanya menjadi momentum untuk mengajak masyarakat datang ke gedung perpustakaan.
Menurut dia, pustakawan justru perlu mendekati masyarakat dan memahami kondisi sosial serta tantangan literasi yang mereka hadapi.
“Kitalah, para pustakawan dan pegiat literasi, yang harus mengambil peran proaktif sebagai garda terdepan dalam menghadapi dan menyembuhkan apa yang kita kenal sebagai pandemi nirliterasi,” tegas Suharyanto, melansir laman resmi Perpusnas, Jumat (11/9/2026).
Ia menilai perubahan tersebut membutuhkan pembongkaran terhadap pandangan lama bahwa masyarakat memiliki kewajiban untuk datang ke perpustakaan. Perpustakaan perlu melihat kebutuhan masyarakat secara langsung agar kegiatan literasi tidak berhenti di dalam gedung.
“Jika selama ini kita memiliki pandangan bahwa masyarakatlah yang berkewajiban untuk datang ke gedung perpustakaan, maka kini saatnya kita melakukan dekonstruksi pemikiran. Kita harus mengubah paradigma tersebut,” tambahnya.
Menurut Suharyanto, gerakan literasi perlu dimulai dari lingkungan paling dekat dengan masyarakat. Keluarga menjadi titik awal sebelum gerakan tersebut berkembang melalui lembaga pendidikan dan ruang literasi di tingkat akar rumput, termasuk pesantren dan taman baca.
“Gerakan kebudayaan ini harus kita tanam dan rawat mulai dari sel terkecil masyarakat, yaitu keluarga,” jelasnya.
Perubahan cara pandang terhadap perpustakaan juga berkaitan dengan pemaknaan literasi. Suharyanto menyebut kemampuan membaca saja belum cukup. Masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk memahami informasi secara kritis dan menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.
“Literasi tidak cukup hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca, tetapi juga kemampuan menganalisis, mengkritisi, serta mengimplementasikan informasi dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya.
Pandangan itu disampaikan dalam Gelar Wicara Hari Kunjung Perpustakaan bertajuk Buku: Merawat Ingatan, Menggugah Kesadaran yang digelar Perpusnas di Gedung Layanan Perpusnas, Jakarta, Jumat (11/9/2026). Peringatan Hari Kunjung Perpustakaan sendiri jatuh pada 14 September.
Dalam kegiatan tersebut, para penulis juga membahas posisi buku di tengah perubahan cara masyarakat memperoleh informasi. Penulis novel Rahasia Salinem, Wisnu Suryaning Adji, menilai buku memiliki kelebihan karena dapat menyajikan sebuah fenomena secara lebih utuh dan memberi ruang kepada pembaca untuk mengaksesnya sesuai kemampuan masing-masing.
Penulis novel Negeri Lima Menara, Ahmad Fuadi, melihat proses penulisan buku sebagai perjalanan yang membutuhkan waktu. Menurut dia, pengalaman menjadi bahan penting dalam proses tersebut sebelum akhirnya dituangkan menjadi tulisan dan dibaca kembali oleh orang lain.
Sementara itu, Maman Suherman menilai buku dapat membuat pengalaman dan fakta tetap hidup untuk dibaca kembali. Ia juga mendorong perpustakaan mengembangkan kegiatan yang membuat masyarakat berinteraksi langsung dengan pengetahuan, termasuk melalui konsep human library atau living library yang menjadikan pengalaman manusia sebagai sumber pembelajaran.
Gagasan tersebut memperluas fungsi perpustakaan dari sekadar tempat memperoleh bahan bacaan. Perpusnas mendorong perpustakaan menjadi ruang perjumpaan dan pertukaran pengetahuan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
“Demi menghidupkan kembali ruh perpustakaan sebagai rumah peradaban, saya percaya, membangun literasi merupakan kerja peradaban, kerja kita bersama,” ujarnya.
*) Penulis: M Habib Muzaki














