Ngopi, Kota Sejuta Warkop, dan Wacana Intelektual di Surabaya

MAKLUMAT — Warung kopi atau warkop merupakan sebuah tempat yang menyediakan berbagai macam menu kopi dan makanan bagi para penikmatnya. Warkop bukan sekadar tempat untuk sejenak menikmati sajian kopi, melainkan bak inkubator manusia dengan pelbagai macam tujuan, motivasi, bahkan cita-cita.

Segala sajian sederhana dari warkop ampuh untuk mengatasi problematika kehidupan manusia, bahkan kondisi negara yang njelimet. Dahulu, “warkop” pernah menjadi tempat untuk berdiskusi terkait kondisi negara, khususnya di Prancis.

Secara antropologi, situasi Prancis kala itu dilanda krisis politik, tetapi di sisi lain terdapat café yang di dalamnya terjadi dialektika bermacam-macam background pemikiran manusia. Filsuf, politisi, hingga masyarakat sipil membicarakan kondisi negara kala itu.

Alhasil, café tersebut menjadi inkubator intelektual hingga mewujudkan Revolusi Prancis. Secara tak langsung kondisi di atas sesuai dengan teori intelektual tradisional Antonio Gramsci. Gramsci dalam teorinya membagi dua paradigma proses intelektual.

Pertama, Intelektual Tradisional, yaitu proses intelektual yang tercipta melalui ruang-ruang sosial yang tak terikat kelembagaan sehingga membuahkan suatu pemikiran. Kedua, Intelektual Organik, yaitu proses intelektual yang tercipta melalui ruang-ruang kelembagaan atau institusional sehingga membuahkan pemikiran.

Acap kali, hal-hal sederhana di atas tak kita sadari. Atau mungkin kita sadar tetapi bodo amat. Segala aktivitas yang kita lakukan di warkop menurut penulis bukanlah suatu yang sia-sia. Sekali seduhan kopi dengan harga yang paling murah hingga harga yang kiranya mahal bisa menjadi solusi apa pun masalahnya.

Baca Juga  Film Tumbal Proyek: Horor, Mitos, dan Publik yang Dipelihara dalam Ketakutan

Terlebih, ditemani dengan perbincangan-perbincangan sederhana atau uzlah sembari merenungi strategi urip. Mungkin bisa dianggap bahwa seduhan kopi lebih ampuh daripada galau tanpa arah.

Mazhab Ngopi di Surabaya

Di Surabaya, banyak warkop yang bertebaran, dari value café hingga warkop sederhana, yang mana tersebar dari penjuru Surabaya Timur, Surabaya Barat, Surabaya Selatan, serta Surabaya Utara. Jika kalian penasaran, buka aplikasi Google Maps, tulis di kolom pencarian dengan kata “tempat ngopi di daerah Surabaya”.

Sesuaikan saja dengan daerah yang ingin dituju. Ataupun jika kalian ingin membuktikan secara manual, langsung saja susuri tiap-tiap daerah maka kalian akan menemukan warkop dengan jenis yang berbeda-beda, tinggal sesuaikan selera kalian.

Biasanya kalau memang akrab dengan aktivitas ngopi, kurang afdal rasanya jika tak menentukan mazhabnya. Maksud dari mazhab di sini ialah tertuju pada satu jenis preferensi tempat ngopi – hanya pandangan subjektif penulis. Jika kalian ingin mencari mazhab untuk ngopi, ada salah satu tempat yang penulis rekomendasikan, salah satunya warkop STK (Sedulur Tunggal Kopi).

Warkop yang memiliki cabang hampir tersebar merata di penjuru Surabaya ini memiliki sejumlah keunikan tersendiri, yakni harga kopi terjangkau, pengadukan kopi dengan kelincahan tangan sang maestro, kesamaan password WiFi yang merata di tiap cabangnya, dan membuka rental PlayBox.

Baca Juga  Kondisi RPH Tambak Osowilangun Dinilai Belum Optimal

Penulis rasa STK menjadi rekomendasi tempat nongkrong bagi mahasiswa atau pelajar. Banyak warkop STK yang berada di dekat wilayah kampus, seperti STK Jalan Sidosermo, STK Jalan Medokan Ayu, STK Jalan Ketintang, dan STK Jalan MERR, atau mungkin yang lain di luar jangkauan pengetahuan penulis.

Alhasil banyak mahasiswa yang singgah di sana untuk mengerjakan tugas, berdiskusi, hingga sesampainya melakukan konsolidasi politik untuk kepentingan pemilihan raya kampus (Pemira) –kalau ini mungkin terlalu dewasa bagi mahasiswa baru, wkwk.

Warkop Adalah Sekolah

Penyebaran warkop di Surabaya sangat merata hingga ke penjuru wilayah. Pasar pelanggannya juga sangat heterogen, mulai dari masyarakat pekerja hingga mahasiswa atau pelajar. Adapun di dalamnya, tak jarang memuat obrolan-obrolan dari mereka yang memunculkan solusi baru dari sebuah isu yang lagi-lagi dihadirkan oleh negara.

Semua ini, penulis rasa bisa menjadi ide baru mengenai metafora, yakni “warkop adalah sekolah.” Metafora tersebut menjadi secercah ide dari penulis yang terpantik dari lagu berjudul Jalanan Adalah Sekolah oleh Lukanegara.

Nampaknya, “warkop adalah sekolah” bisa menjadi rasionalisasi bagi penikmat kopi mana pun yang hendak merebahkan kehidupannya melalui seduhan kopi yang nikmat tanpa bayang-bayang sindiran, “ngopi terus seperti orang nganggur”.

Baca Juga  Muhammad Mirdasy, Sang Pemikir dan Aktor Politik Civil Society

Sedikit tambahan, mereka yang sinis pada masyarakat yang gemar ngopi di warkop tampak perlu diragukan wawasannya. Padahal di warkop pun terjadi proses dialektika nonformal. Warkop adalah sekolah, barangkali ini menjadi fenomena sosial yang menarik diulik dan dilakukan oleh pembaca.

Mungkin habits ngopi juga menjamur di wilayah luar Kota Surabaya. Perlu direfleksikan bahwa habits seperti itu memiliki implikasi yang menarik jika dipakai untuk aktivitas berdiskusi atau aktivitas intelektual lainnya.

Sungguh indah dibayangkan bukan? Dari yang sebelumnya aktivitas di warkop hanya diisi dengan bermain game, namun ke depan diwacanakan menjadi tempat aktivitas intelektual. Tentu saja pasti ada manfaat yang diperoleh, baik dalam pengetahuan, paradigma, dan cara berpikir pada umat-umat di warkop tertentu.