Resmi Dikukuhkan Jadi Guru Besar Ilmu Keperawatan, Mundakir Tawarkan Implementasi KT-PSIKO

Guru Besar Bidang Kepakaran Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Surabaya, Prof Dr Mundakir SKep Ns MKep.

MAKLUMAT — Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Prof Dr Mundakir SKep Ns MKep FISQua, resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang kepakaran Ilmu Keperawatan Umsura, pada Kamis (30/4/2026).

Dalam pengukuhan yang dilaksanakan di Auditorium Lt. 13 At-Tauhid Tower Umsura itu, Mundakir dikukuhkan bersama Guru Besar dalam kepakaran Pembelajaran Metakognitif, Prof Dr Lina Listiana MKes.

Mundakir menyampaikan orasi ilmiah bertajuk “Bridging Psychosocial Gaps in Nursing: Knowledge Translation untuk Indonesia di Era Disrupsi“, di hadapan para tokoh publik maupun pimpinan-pimpinan Persyarikatan dan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), serta seluruh sivitas akademika yang hadir.

Ia menjelasnya apa yang menjadi kegelisahannya sehingga mengangkat judul tersebut dalam orasi ilmiahnya, bahwa di tengah kemajuan teknologi kesehatan, digitalisasi layanan, dan perkembangan ilmu keperawatan, namun masih terdapat kesenjangan, antara kebutuhan psikososial pasien pada praktik pelayanan yang mereka terima.

“Padahal keperawatan sesungguhnya, dan saya kira tidak hanya keperawatan, itu bertanggungjawab merawat pasien, melayani pasien secara utuh, bukan hanya pada aspek biologis ataupun medis saja, tapi harus juga memperhatikan bagaimana aspek psikologisnya, sosialnya, spiritualnya, budayanya. Inilah yang menjadi gap, yang menjadi keprihatinan,” ujarnya.

Hanya Berobat Saat Alami Keluhan Fisik

Mundakir menyoroti paradigma yang lazim di masyarakat bahwa seseorang berobat atau mengakses layanan kesehatan hanya jika mengalami keluhan pada kondisi fisiknya. Paradigma yang demikian, kata dia, telah mereduksi manusia menjadi sekadar tubuh yang sakit.

“Masih lazim di masyarakat kita, (bahwa) orang berobat itu karena fisiknya yang sakit, orang berobat karena keluhan sakit fisik. Kalau pusing, kemudian nyeri, itu baru berobat ke dokter, ke Puskesmas, ke rumah sakit, tapi tidak ada yang dengan penuh kesadaran orang atau pasien itu datang karena cemas enggak bisa tidur, karena malas makan, karena kepikiran terus, malas bergerak, depresi, kesepian, enggak ada. Inilah yang menjadi tantangan bagi kita,” sorotnya.

Baca Juga  Mengaku Kurang Puas, Bupati Subandi Minta Pengawasan Mutu Pembangunan RSUD RT Notopuro Diperketat

Mundakir lantas memaparkan data global yang dilaporkan WHO (Organisasi Kesehatan Dunia), bahwa satu dari tujuh penduduk dunia hidup dengan gangguan mental, sedangkan satu dari enam orang muda mengalami kesepian, khususnya di kalangan anak muda.

Sementara itu, di Indonesia, sekitar 46 juta remaja disebut menghadapi tantangan kesehatan yang kompleks. Berdasarkan data dari Indonesia National Adolence Mental Health Survey (I-NAMHS) tahun 2023, sekitar 5,5 persen remaja usia 10-17 tahun mengalami gangguan mental. Selain itu, sekitar 61 persen remaja yang mengalami depresi memiliki pemikiran untuk mengakhiri hidupnya, dan hanya sekitar 10,4 persen yang benar-benar mencari bantuan medis.

“Kalau ini (yang hadir) 500, maka di antara kita itu ada yang mengalami masalah kesehatan jiwa, psikologis, 71 orang,” sorotnya.

“Kesenjangan ini bukan sekadar statistik. Ini adalah kegagalan sistem yang mendeteksi dan menjangkau manusia yang paling rentan,” sambung pria yang menjabat Rektor Umsura periode 2024-2028 tersebut.

Empat Tekanan Sistemik dan Triangulasi Psikososial

Lebih lanjut, Mundakir menyoroti apa yang disebutnya sebagai paradoks keperawatan modern, di mana menurutnya peningkatan teknologi justru memperburuk keterasingan. “Karena itu, teknologi harus menjadi alat, bukan menggantikan empati,” tandasnya.

Ia juga menyampaikan soal empat tekanan sistemik yang mengancam fondasi keperawatan Indonesia. Pertama, tingginya angka burnout perawat yang mencapai 33,5 hingga 37,5 persen. Persentase tersebut, menurut dia jauh di atas rata-rata global yang hanya 11 persen, dengan tingkat stres kerja yang menyentuh angka 50,9 persen.

Baca Juga  Mahasiswa Umsura Putra Tri Ramadani Cetak Sejarah, Raih Emas World Climbing Series Praha 2026

Kedua, ia menyoroti soal transformasi digital atau digital gap. Menurutnya, transformasi digital yang berorientasi murni pada efisiensi justru mereduksi ruang relasional menjadi sekadar aktivitas administratif.

Ketiga, Mundakir menyoroti arus informasi yang sangat pesat dan mengakibatkan masifnya misinformasi di media sosial (medsos). Hal itu, kata dia, memicu ketakutan irasional pada pasien dan melipatgandakan beban edukasi bagi perawat. “Maka di sinilah peran perawat juga penting untuk mengedukasi,” tegasnya.

Kemudian, keempat, Mundakir menyoroti soal fragmentasi sistem yang membuat praktik asuhan holistik belum terintegrasi, dan family-centered nursing yang belum menjadi indikator kinerja baku di rumah sakit.

Lebih jauh, Mundakir mengungkapkan pentingnya konsep triangulasi psikososial dalam konteks Indonesia, yakni bahwa penyembuhan pasien seutuhnya harus bertumpu pada tiga pilar: spiritualitas (makna dan harapan), budaya (kompetensi kultural), serta keluarga (kolektivisme sosial).

“Di Indonesia keputusan medis jarang benar-benar individual, keluarga menjadi pendamping, pengambil keputusan, sumber dukungan emosional, dan penentu keberlanjutan perawatan,” sebutnya.

“Banyak pasien memaknai sakit bukan hanya sebagai gangguan biologis, tetapi juga sebagai ujian, proses refleksi, dan perjalanan spiritual. Karena itu, penyembuhan pasien seutuhnya harus mengabungkan ilmu budaya, keluarga, dan spiritual,” imbuh Mundakir.

KT-PSIKO dalam Implementasi Keperawatan Psikososial

Dalam kesempatan itu, Mundakir lantas memperkenalkan apa yang disebutnya sebagai KT-PSIKO alias knowledge translation psikososial, yakni siklus tujuh langkah implementasi: mengenali kesenjangan praktik, menerjemahkan bukti ilmiah, mempersonalisasikan konteks, menyingkirkan hambatan, mengimplementasikan secara bertahap, mengontrol proses dan hasil, serta mengorganisasikan secara berkelanjutan.

Baca Juga  RSML Gelar Konsultasi Publik Penyusunan AMDAL Pembangunan RSM Harini Suyitno Situbondo

Mundakir mengingatkan bahwa masalah terbesar keperawatan psikososial bukan terletak pada kurangnya pengetahuan. Melainkan pada ketidakmampuan sistem menerjemahkan bukti ilmiah menjadi tindakan yang kontekstual. Ia juga menyoroti data yang menyebutkan bahwa inovasi berbasis bukti ilmiah rata-rata sekitar membutuhkan 17-20 tahun sebelum benar-benar masuk ke layanan klinis rutin, dan kurang dari 50 persen inovasi berhasil diimplementasikan secara sistematis.

“Melalui KT-PSIKO ilmu keperawatan tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi bergerak menjadi tindakan profesional yang kontekstual, terukur, berkelanjutan, dan memuliakan martabat manusia,” tandasnya.

“Masa depan keperawatan psikososial ditentukan oleh kemampuan menghubungkan antara evidence, context, compassion, dan action atau tindakan,” tambah Mundakir.

Selain itu, Mundakir juga menyampaikan tujuh poin rekomendasi, yakni: penguatan kurikulum psikososial; pengembangan riset translasional dan riset implementasi; penyusunan model praktik dan SOP keperawatan psikososial dengan matang; penguatan kapasitas perawat sebagai agen knowledge translation; integrasi indikator mutu psikososial dalam sistem evaluasi pelayanan; penguatan pendekatan interprofesional dan family-centered care; serta peneguhan landasarn etik, humanistik, dan spiritual.

“Knowledge translation perlu menjadi gerakan akademik, gerakan praktik profesional, dan gerakan moral dalam pengembangan keperawatan profesional, menghadirkan pelayanan yang bukan saja ilmiah, tetapi juga manusiawi, konstekstual, dan berkeadaban,” pungkas Mundakir, yang juga menjabat Ketua Majelis Pembina Kesehatan Umum Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (MPKU PWM) Jawa Timur.