Mas Mansur Institute Diluncurkan, Siapkan 12 Kajian Pakar untuk Sumbang Gagasan Muktamar Muhammadiyah

Suasana peluncuran Mas Mansur Institute sekaligus Kajian Pakar Seri 1 di Lantai 4 Gedung At-Tauhid Universitas Muhammadiyah Surabaya, Jumat (6/11/2026). Foto: Dok. Mas Mansur Institute

MAKLUMAT — Sekolah Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA) meluncurkan Mas Mansur Institute – Islamic and Humanitarian Studies, Jumat (6/11/2026). Lembaga ini akan menggelar 12 seri kajian pakar yang hasilnya direncanakan menjadi buku gagasan untuk disumbangkan kepada Panitia Muktamar Muhammadiyah.

Peluncuran berlangsung di Lantai 4 Gedung At-Tauhid UMSURA, Surabaya, melalui kegiatan Launching dan Kajian Pakar Seri 1. Sekitar 50 mahasiswa Sekolah Pascasarjana UMSURA dan peserta lainnya mengikuti kegiatan yang diselenggarakan secara hibrida tersebut.

Pada kajian perdana, panitia menghadirkan Prof. Amin Abdullah, M.A., Ph.D., Anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Ia membahas tema “Membaca Kembali Manhaj Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah”.

Ketua Mas Mansur Institute, Dr. Sholikhul Huda, M.Fil.I., menjelaskan bahwa pendirian lembaga ini terinspirasi dari KH. Mas Mansur, tokoh pembaru Islam, pahlawan nasional, sekaligus salah satu tokoh penting dalam sejarah Muhammadiyah. Institut tersebut diharapkan menjadi tempat pengembangan pemikiran Islam yang berhubungan dengan persoalan kemanusiaan.

“Mas Mansur Institute hadir untuk menghidupkan tradisi intelektual Islam yang kritis, moderat, inklusif, dan berkemajuan. Kami ingin menjadikan Islam tidak hanya dipahami sebagai doktrin keagamaan, tetapi juga sebagai kekuatan etik, intelektual, dan transformatif untuk membangun peradaban yang adil dan berkeadaban,” ungkap Sholikhul Huda.

Baca Juga  Muhammadiyah Songsong Tanwir Palu, Bahas Evaluasi Organisasi hingga Matangkan Muktamar 2027

Wakil Direktur Sekolah Pascasarjana UMSURA ini mengatakan, umat Islam menghadapi persoalan yang semakin beragam. Ketimpangan sosial, kemiskinan, intoleransi, konflik kemanusiaan, dan krisis lingkungan menjadi beberapa persoalan yang membutuhkan perhatian. Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan juga menghadirkan tantangan baru bagi pemikiran keislaman.

Menurut Sholikhul, kondisi tersebut membutuhkan ruang kajian yang mempertemukan perspektif Islam dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai kemanusiaan. Mas Mansur Institute dirancang untuk menjalankan fungsi tersebut melalui riset, diskusi akademik, publikasi, dan pengembangan gerakan intelektual.

Dalam kajian perdana, Prof. Amin Abdullah mengajak peserta menelaah kembali manhaj tarjih dan tajdid Muhammadiyah. Pendekatan tersebut perlu terus dibaca sebagai metode pemikiran yang dinamis agar mampu merespons perubahan zaman dan perkembangan ilmu pengetahuan.

Pembahasan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat relevansi pemikiran keagamaan Muhammadiyah dalam menghadapi perubahan sosial dan persoalan kemanusiaan global. Mas Mansur Institute selanjutnya akan menjadikan kajian pakar sebagai ruang dialog antara khazanah pemikiran Islam dan berbagai disiplin ilmu kontemporer.

Program tersebut dirancang berlangsung dalam 12 seri dengan menghadirkan akademisi, pakar, dan tokoh pemikir. Topik yang dibahas mencakup Islam, Muhammadiyah, kebangsaan, kemanusiaan, dan tantangan peradaban kontemporer.

Baca Juga  Mengenal Istilah-Istilah dalam Muktamar Muhammadiyah

Sholikhul menjelaskan, hasil seluruh kajian akan dihimpun dan dikembangkan menjadi sebuah buku gagasan. Buku tersebut direncanakan menjadi sumbangan pemikiran kepada Panitia Muktamar Muhammadiyah.

“Kami merencanakan 12 kali kajian pakar. Insyaallah, hasil seluruh rangkaian diskusi ini akan kami dokumentasikan, olah, dan terbitkan menjadi sebuah buku gagasan. Buku tersebut akan kami sumbangkan kepada Panitia Muktamar Muhammadiyah sebagai kontribusi pemikiran sekaligus ikhtiar kami untuk ikut memberikan gagasan terbaik bagi masa depan Muhammadiyah,” ujar Sholikhul.

Ia menilai Muktamar Muhammadiyah memiliki peran penting dalam menentukan arah pemikiran dan gerakan organisasi. Karena itu, forum tersebut perlu mendapat dukungan dari tradisi intelektual yang berkembang melalui dialog akademik, penelitian, dan refleksi kritis.

Melalui rangkaian kajian tersebut, Mas Mansur Institute ingin mengembangkan pembahasan mengenai pembaruan pemikiran Islam, penguatan Manhaj Tarjih dan Tajdid, Islam Berkemajuan, kebangsaan, demokrasi, serta agenda kemanusiaan global.

Secara kelembagaan, Mas Mansur Institute menetapkan visi menjadi pusat kajian Islam dan kemanusiaan yang unggul, progresif, dan berpengaruh. Untuk mewujudkannya, lembaga ini akan mengembangkan riset interdisipliner, publikasi ilmiah, pendidikan dan literasi masyarakat, advokasi kemanusiaan, serta kolaborasi akademik di tingkat nasional maupun internasional.

Baca Juga  Membangun Warisan Peradaban, Di Balik Tradisi Muhammadiyah Selalu Gelar Muktamar di Gedung Mewah

Sholikhul berharap lembaga tersebut dapat melahirkan generasi intelektual dan pemimpin transformatif yang memiliki integritas, wawasan kebangsaan, serta keberpihakan terhadap kemaslahatan umat dan bangsa.

“Prinsip kami sederhana, Islam harus dipikirkan secara mendalam, diwujudkan dalam tindakan, dan dihadirkan untuk kemanusiaan. Karena itu, semangat Mas Mansur Institute adalah Think Islam, Act Humanity, Build Civilization,” pungkasnya.

 

*) Penulis: M Habib Muzaki